Cintaku berlabuh di Zürich

Musim panas 2014 di Zurich memang indah. Siapapun yang pernah ke Zurich mungkin tidak akan pernah melupakan bahwa mereka pernah di sana. Kota dimana ketika musim panas langit menjadi biru terang dan dari kejauhan tampak pegunungan Alpen yang diduduki oleh putih salju yang menempel di atas puncaknya. Udara khas eropa barat yang bersih dan segar menambah puji syukur atas anugrahNya. apalagi yang kurang?. Yang kurang cuma pagi ini aku harus membeli beberapa peralatan kamar tanpa guide di kota baru ini alias kemana mana ngacir sendiri. Memang, aku baru saja pindah dua hari yang lalu dari kota kecil di wilayah Jerman. Tentu saja pindah ke kota besar menjadi sesuatu yang baru dan sangat spesial bagiku.

Seperti biasa pagi ini aku cuma sarapan Baguette (roti khas Perancis) saja. Aku memang tidak suka makan besar di pagi hari. Alasanya bikin mengantuk kalau kuliah apalagi sekitar jam 10.00an. Oleh karena itu aku lebih suka sarapan dengan segelas the panas dan baguette di lapisi dua telur dadar. Ya, masakan gabungan Perancis ala mahasiswa telur dadar. Hehehe. Ah…masa bodoh yang penting giziku cukup pagi itu.

Pagi itu aku bangun memang lebih awal dari biasanya. Satu satunya alasan hanya aku ingin melihat matahari menyinari wajahku sambil jogging di pinggiran danau Zurichsee . Kata orang Jerman  „der Morgen macht den Tag“ oleh karena itu aku harus bangun pagi-pagi jika ingin hari ini bermanfaat. Kalau tidak, mungkin sama saja dengan sifat lamaku di Jerman dulu yang berakibat berlalunya  beberapa musim sebelum studiku selesai.Pagi ini aku cuma ingin melihat apakah memang benar Zurich pada musim panas secantik dan anginnya yang lembut keibuan seperti bayanganku  Catherine Zeta Jones dalam parasnya yang padat bergaun merah panjang. Aku bayangkan kalau Catherine dikasih baju adat Minang dengan sanggul diatas kepalanya, dan juga dibalut baju merah yang terang benderang plus perhiasan yang mengkilat keemasan mungkin semua laki-laki akan iri kepadaku.

Setelah selesai joging disekitar danau pagi itu aku langsung pulang ke rumah. Tapi kali ini aku pulang mengunnakan Strassen bahn, walaupun sebenarnya jarak antara lokasi jogging dengan Apartemenku hanya 20 menit jalan kaki. ” Untuk menyimpan tenaga buat angkat-angkat barang nanti” pikirku.

Ternyata aku bukan hanya menyimpan tenaga tetapi juga telah menyimpan harapan di dalam Strassen Bahn ini. Secara tak sengaja aku dipertemukan oleh ikatan atom-atom yang masih mengalirkan arus listrik dari hati ke hati dan dari hari ke hari. Benar saja, gadis hidung mancung tinggi semampai, bermata coklat tetapi berambut hitam agak kecoklatan seperti ekor kuda melihat kearahku dengan serius dan sedikit mengerinyitkan dahinya. Aku yang terbiasa super cuek, tanpa sadar juga melihat kearah gadis ini. Tak pelak lagi senyum paling indah hari itu muncul di wajahku. Lalu Irina juga membalas senyumku sambil berdiri. Aku menghampiri Irina “Irina ,ada keperluan apa kamu ke Zuerich…?” tanyaku dengan suara berat. “iya Yuda, ada beberapa keperluan” balas Irina dengan lembut dengan logat Indonesia Britishnya. Benar saja, pagi itu jantungku berdebar lebih keras walaupun aku tidak dalam berlari atau jogging. Peluhku semakin banyak bercurun walaupun hari masih pagi jam 9.00 dan juga belum terlalu panas.

Irina adalah gadis keturunan Swiss-Indonesia.  Lahir di Marseille kota di selatan Perancis karena ayahnya bekerja di sana pad waktu itu, tetapi kemudian umur enam tahun pindah ke Manchester di Inggris juga karena ayahnya dipindahtugaskan.  Aku secara tak sengaja ketemu Irina ketika aku menonton bola di Old Trafford setahun yang lalu. Ketika masuk ke dalam stadion aku menemukan ID atau KTP yang tercecer di dekat loket pembelian tiket. Dari nama yang aku baca “Irina Aisyah Berner”, aku kira ini adalah wanita muslim keturunan Pakistan –Inggris, karena dari foto wajahnya di ID khas sekali seperti aktris film India Katrina Kaif.

Aku sebenarnya mau memberikan ID ini secepatnya ke meja Informasi, tetapi karna pertandingan antara Manchester United vs Chelsea segara dimulai. Lalu aku mundurkan niat ini untuk nanti pada waktu break di babak kedua saja aku menyerahkan ID ini. Maklum, pertandingan ini adalah pertandingan big match. Aku tidak mau dong melewatkan line-up susunan pemain sampai pertandingan dimulai. Ini memang pertama kali aku ke Inggris, makanya aku tidak ingin melewatkan apa saja di Old Trafford.

Pertandingan babak pertama baru saja dimulai dan pertandingan begitu seru sampai menghasilkan 3 kartu kuning sore itu. Babak pertama hampir habis dan wasit memberikan 3 menit Stoppage Time dan sekarang tiba kewajibanku untuk memberikan ID ini ke meja informasi di lantai bawah. Aku sempat juga kebingungan mengingat Old Trafford begitu besar dan harus berjalan sana sini. Untungnya di Eropa secara umum semua petunjuk pasti ada, akan malu sekali kalau bertanya arah ini itu dan ternyata papan infonya ada di depan kita. Mencari tahu sendiri dulu mungkin adalah option paling utama dan paling cerdas.

Ternyata di depan kantor informasi ada seorang gadis yang berbicara dengan petugas informasi tersebut. Akhirnya aku harus menunggu 5 menit sebelum aku juga mulai bicara juga. Di meja Informasi saat itu memang cuma ada satu petugas. Otomatis aku mendapat kesempatan bicara setelah selesai  urusan gadis ini.

Gadis ini terlihat sedikit bingung entah karena apa dan duduk di kursi di depan kantor. Setelah aku bicara dengan petugas informasinya dan memberikan kembali ID ini gadis ini juga masih bingung. Lalu petugas informasi ini memanggil gadis tersebut dan menanyakan„ This guy has found an ID card. Is this yours?. “  Tanya petugas tersebut kepada gadis tersebut. Setalah gadis tersebut bangkit dari duduknya dan melihat bahwa ini memang ID miliknya. “yes, this is my ID card”. Lalu gadis ini bilang terima kasih kepadaku “Thanks so much”.. “Yuda, Yuda is name” potongku. Ohh..”Thanks so much Yuda, I am Irina” balas Irina dengan logat Britishnya.

Lalu setelah berbicara sekitar 7 menit tentang dimana aku menemukan IDnya dan berbicara tentang apa tujuanku ke Manchester dan lainya secara singkat. Baru tahu aku bahwa dia ada darah Indonesianya dari ibunya. Lalu sambil jalan kami kembali duduk ke tribun. Arahnya memang sama, cuma beda nomor kursi saja. Irini duduk sekitar 30 meter arah kiriku dan 5 tingkat bangku dibawahku. Berarti Irina tepat sekali mengambil tempat duduk yang paling strategis dan aku hanya bisa membeli tiket standar saja di dekat sudut lapangan. Yang penting bisa menonton bola disana pikirku.

Dalam perjalanan tadi kami memang memiliki janji untuk bertemu kembalii di kantor Informasi. Tapi kali ini bukan untuk menyerahkan ID card lagi tetapi untuk menyerahkan pengetahuan Irina tentang Manchester kepadaku. Irina menawari dirinya untuk menjadi guide di Manchester setelah pertandingan itu. Berhubung waktu musim panas masih panjang dan pertandingan biasanya jam 17.00 sudah berakhir.

Pertandingan 45 menit berlalu lebih lama dari biasanya. Apakah perasaanku saja atau memang pertandingan tak menarik lagi setelah aku ketemu yang lebih menarik tadi di Information Centre, jadi seolah terasa lebih lama waktu berputar. Setelah selesai pertandingan aku bergegas menuju Informasi, bukan apa-apa, sebelumnya aku harus ke toilet dulu supaya nantinya selama diguide tidak pergi lagi ke toilet, jadi bisa menghemat waktu. Ternyata karena serentak fans keluar dari stadion dan sangat banyak, akhirnya waktu di toilet antri juga. Butuh sekitar 15 menit juga untuk sampai ke Information Centra, dan di sana ternyata telah menunggu dengan sabar Cetherine Zeta Jones waktu mudanya. Lalu aku minta maaf karena telat sekitar 10 menit dan membuat dia menunggu lebih lama. Irina bilang kalau dia lebih suka bicara bahasa Indonesia dengan ku. Memang Irina termasuk lancar berbahasa Indonesia, walaupun masih ada beberapa kosa kata yang dia tidak tahu namanya. Aku maklum, dia besar bukan di budaya dan negara Indonesia. Terlalu banyak kultur yang mempengaruhi kehidupannya. Mulai dari sifat kerja keras bangsa Jerman dan Swiss dari ayahnya, ayu dan lembutnya nya sebagai perempuan dari Ibunya yang Indonesia, sifat romantis khas Perancis yang mungkin sedikit banyak menular ketika dia di sekolah taman kanak kanak di Marseille dan kemudian melebur menjadi satu dengan budaya Inggris.

Setelah selama hampir 45 menit kami berbicara panjang lebar sambil berjalan mengitari daerah kota Manchester. Aku melihat Irina mulai kelelahan berjalan. Lalu aku minta maaf, maaf karena telah membuat dia lelah berjalan 45 menitan. „Kamu capek Irina?..maaf ya, aku ga sengaja meminta kamu jadi guide ku di sini“. Karena aku telah membuatmu berdiri selama 45 menit. Bagaimana kalau permintaan maaf ku  ditebus dengan duduk makan es krim 45  menit juga“ tanyaku. „Impas kan?“ tambahku… Irina menyetuji dan menunjukan tempat makan es krim paling enak dan juga tidak terlalu mahal di pusat kota Manchester.

Empat puluh lima menit duduk makan es krim juga telah berlalu dan Irina juga ada janji setelah itu sekitar jam 19.30. Lalu aku meminta apakah aku boleh mengetahui alamat Facebooknya dan emailnya. Tanpa ragu Irina mengabulkan  kedua permintaan ini. Lalu setelah mengantar Irina ke jalan London Road tepat persis di depan Hotel International yang berwarna merah tua bata. Aku pun balik mengitari kota Manchester dan sekitarnya.

Setelah hampir setahun tidak bertemu dan hubungan via FB atau Email pun jarang kulakukan dengan Irina. Akhir tahun itu memang aku sangat sibuk dengan tesisku di Universitas dan perusahaan tempat aku praktikum juga.  Ya, wajar saja Facebook bukan lagi menjadi social network nomor wahid di dunia saat itu. Paling aku tanya kabar dan say hello sesekali saja dengan Irina. Pertemuan yang cuma 2×45 menit tersebut serasa sangat singkat. Bagai sebuah pertandingan bola tanpa jeda istrirahat. Sayangnya aku juga harus mengistirahatkan tulisanku disini dulu. Mungkin besok disambung lagi..mau mandi dulu setelah jogging tadi pagi..

Cerita ringan di hari Minggu..

 

Yuda..

Ketika berpartner dengan Pertamina

Semakin hari semakin banyak saja berita menarik dan positif tentang Indonesia. Baru saja membaca berita di sebuah surat kabar online sudah muncul kiranya mobil listrik hasil dalam negeri. Saya memang selalu ingin berpikiran positif. Terserah apakah nanti mobil listrik ini akan diproduksi massal atau terkubur bersama ambisi politik. Menumbuhkan dan menyebarkan sikap pesimis memang sangat […]

ACT for Indonesia oleh PPI Duisburg-Essen, Jerman 2012

ACT for Indonesia, Duisburg 2012

Kalau bicara tentang Indonesia, beberapa orang asing akan berpendapat bahwa kita itu setara dengan negara-negara berkembang lainnya. Kita boleh setuju atau tidak. Yang jelas hanya anak bangsa yang visioner dan pedulilah yang tahu kita dimana dan kemana arah negara ini dibawa. Dalam kunjungan dan ramah tamah dengan Mendikbud pak  Muhammad Nuh dua minggu yang lalu di Univ Duisburg Essen, kampus Duisburg. Beliau memaparkan bahwa Indonesia saat ini berada di jalur yang sangat tepat untuk maju dan berkembang. Indonesia saat ini berada di titik dimana jumlah penduduk usia kerja aktif memiliki rasio yang sangat besar dibanding dengan jumlah penduduk usia pensiunan. Lihat data bps http://sp2010.bps.go.id/ .

Artinya kita memiliki modal yaitu SDM yang sangat potensial untuk meningkatkan perekonomian kita. Dengan jumlah sekitar 150 juta tenaga kerja potensial, ini berarti dua kali lipat jumlah penduduk Jerman yang cuma 80 juta jiwa. Kalau jumlah ini difasilitasi dengan baik, maka seharusnya kita sudah bisa berlari mengejar Jerman dan negara G-20 (http://www.g20.org/index.php/en)  lainnya. Kita boleh bangga karena Indonesia dipandang sebagai negara potensial dengan masuk G-20. Tapi ingat, sebuah perusahaan tanpa inovasi akan mati ditelan zaman. Seperti Nokia yang dikalahkan Samsung dan Apple. Begitu juga Indonesia, disaat negara lain berlari marathon ke ujung dunia, kita seharusnya juga berlari tapi dengan cara sprinter.

Tapi ada juga efek buruknya memiliki SDM sebanyak ini. Jika SDM berusi dini 10-20 tahun ini tidak diberi pendidikan yang layak, maka dikhawatirkan nantinya malah akan menjadi masalah sosial 10 tahun mendatang. Karena kurang pendidikan dan keterampilan apalagi kreatifitas, malah akan menjadi beban negara nantinya. Pendidikan bukan hanya faktor utama untuk lepas dari kemiskinan, tapi juga untuk lepas dari kebodohan dan dibodohi.

Pakaian adat yang ditampilkan di acara ACT for Indonesia

Setelah lumayan bosan dengan berita negatif yang setiap hari menghiasi surat kabar dan media di Indonesia dan pendidikan yang sering diabaikan. Dari pada tenggelam bersama sama menuju kehancuran tanpa perbuatan kenapa tidak mencari perahu kecil untuk menyelematkan beberapa bibit bangsa yang mungkin nantinya bisa mengangkat kembali batang batang bagus yang sudah tenggelam. Bung Hatta pernah berkata ” Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia yang  tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku” . Atas dasar inilah kami pelajar Indonesia di Duisburg-Essen dan sekitarnya PPI Duisburg – Essen (PPI DuE) mengadakan acara ACT for Indonesia (Awareness, Care, Togetherness for Indonesia). Kami sadar, peduli dan bersama sama dengan elemen terkait ingin mencerdaskan anak bangsa. Meskipun acaranya tidak terlalu besar, tapi InsyaAllah dan mudah2an bermanfaat bagi mereka.

Tamu yang sedang menikmati kuliner nusantara

ACT for Indonesia ini mengambil tempat di Internasionales Zentrum der VHS Duisburg pada tanggal 16 Juni 2012 kemaren. Syukur Alhamdulillah gedung kami dapatkan dengan gratis, terjadi atas hubungan yang terjalin baik dan lobi beberapa keluarga Indonesia di Duisburg dengan pemerintah Duisburg. ACT for Indonesia ini merupakan acara besar kedua PPI DuE setelah Pray for Indonesia tahun 2010.

Tamu sedang menonton pertunjukan di dalam ruangan

Di acara ini kami memperkenalkan tentang Indonesia melalui kekayaan budaya, kuliner dan pariwisata kepada tamu yang hadir. Harapan kami memang tidak terlalu banyak karena hari itu cuaca di Duisburg juga tidak terlalu jelas dan sering berubah ubah. Hujan dan mendung memayungi atap Duisburg sepanjang hari. Harapan dengan 300 tiket atau tamu yang hadir karena keterbatasan luas ruangan penyelenggaraan itu sudah cukup baik. Tetapi karena begitu gencarnya promosi yang dilakukan oleh seksi publikasi akhirnya kami menerima tamu sampai 485 orang. Sedangkan quota tiket hanya 500 tiket walaupun anak berusia dibawah 12 tahun tidak dibebankan membeli tiket. Jumlah panitia sendiri yang terhimpun dari berbagai kota di daerah North Rhein Westfalen berjumlah 50 orang. Artinya, ruangan tersebut dipenuhi 535 orang. Masing masing tamu membeli tiket masuk seharga 3 euro dan mendapat sekaleng minuman ringan sebagai ucapan Selamat Datang.

Presentasi dari MER C dan Stand EdFI

Di dalam ruangan yang lain telah menunggu kuliner dan minuman khas Indonesia seperti Siomay, Mie Ayam Pangsit, Sate dan Mie Goreng, Putu Ayu, Agar-agar,  Teh Tarik, Asinan buah dll yang siap disantap oleh tamu dengan harga yang  bervariasi. Keuntungan dari hasil penjualan makanan dan tiket di acara ini akan disumbangkan ke Education for Indonesia (EdFI) http://www.educationforindonesia.de/en/home.html dan panti asuhan Grha Asuh Jabal 165 di Bandung (http://www.jabal165.com/). Kedua Institusi ini telah menjalin ikatan dengan PPI DuE dalam soal penyaluran dan transparansi dana hasil acara ini.

Pertunjukan tari Saman dan Angklung

Selama empat jam  acara dari jam 17.00 – 21.00 tamu disuguhi acara kesenian dan budaya Indonesia seperti tari pring, tari saman, tari kipas dan tari yapong dan Angklung. Tim tari saman PPI DuE juga sudah sering mengisi acara acara kesenian tentang Indonesia yang diadakan di propinsi NRW. Presentasi mengenai  sistem pendidikan di Indonesia beserta potensi pelajar Indonesia yang menjadi juara di beberapa ajang dunia Internasional juga ditampilkan dalam bentu poster dan presentasi. Tak lupa juga kami menyajikan beladiri milik Indonesia yaitu Pencak Silat, music performace PPI DuE (band Hujan) yang menjadi juara satu di Temu PPI Eropa di Eindhoven dua bulan yang lalu http://temueropa.ppibelanda.org/?page_id=60 turut menghiasi kegembiraan kami hari itu. Kami juga memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia melalui pakaian adat beberapa propinsi di Indonesia serta pemutaran film mengenai pendidikan di Indonesia dan film tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Akhirnya….Tak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara ini. Panitia acara yang telah bekerja keras semaksimal mungkin menyiapkan acara ini tanpa kenal lelah, ASTA  Universitaet Duisburg Essen, AAA (International Office)  Universitaet Duisburg Essen, Konjen Republik Indonesia di Frankfurt , IFGI GISI Duesseldorf, Muslim Ruhr dan Kajian Muslimah Ruhr. Dan tak lupa juga kiranya kepada semua tamu yang telah rela hadir dan membagi rezekinya untuk kemajuan pendidikan anak anak Indonesia.

 

Duisburg, 21.06.2012

Bayu van Adam

Musim Semi di Jerman – Hiking di Winterberg

Banyak yang bertanya..
aku ini mau jadi apa?..
nggak kuliah, cuma jalan-jalan aja..
tapi kujawab inilah aku apa adanya

tapi jangan kira..
aku gak berbuat apa-apa..
aku berkarya dengan yang ku bisa..
dan yang penting aku bahagia..

Begitulah sepenggal lirik lagu Bebas Merdeka yang dinyanyikan oleh Steven and Coconut Tree. Banyak juga yang bertanya dan mengira kalau kuliah di Jerman banyak senang senang saja. Minggu kemaren tiba di  Brussel, 2 hari berikutnya di Paris dan 3 hari sebelumnya ada di Maastricht. Saya jawab saja “memang kuliah di Jerman manisnya cuma 20 %, yang 80 % itu manis bangeeeet..hehehe“. Eropa itu ada dalam telapak tangan, mau kemana saja di negara sekitar Jerman bisa di lakukan besok subuhnya. Begitulah transportasi di Eropa yang menghubungkan semua lini transportasi secara tersistem.

Suasana kota Zueschen di pagi hari jam 11.00

Saya memang belum memunculkan tulisan tentang “empedu” di Jerman kalau saya belum bisa menemukan “madu” nya Eropa. Biarlah yang pahit saya makan sendiri dulu ya, saya bagi yang  manis-manisnya saja buat rekan-rekan sekalian. Kalau kata orang Minang ” Lamak dek awak katuju dek urang” (Kalau buat saya enak/manis, berarti orang lain juga mau yang manisnya). Kalau yang manisnya saya bagi mudah mudahan yang lain suka.

Reza di depan papan nama kota Zueschen

Percaya atau tidak..? Kalau rencana yang direncanakan jauh-jauh hari bersama orang atau teman-teman yang banyak sering kali tidak akan pernah terwujud. Itulah mengapa hanya butuh maksimal lima orang dalam sebuah start up perusahaan. Lihat saja perusahaan Apple Inc hanya butuh tiga orang, Facebook cuma butuh empat orang dan Google bahkan hanya butuh dua orang untuk membuat rencana menjadi jalan masa depan.

Bayu, Radit, Joe, Rizki, Reza

Setelah gagal beberapa bulan sebelumnya bersama teman teman pergi ke Heidelberg, kota cantik kuno jaman abad pertengahan, cocok untuk pre weeding, cocok untuk bulan madu, cocok untuk bersepeda berduaan di bawah rindangnya pohon-pohon yang mulai menghijau, cocok untuk jalan-jalan sore di tepi sungai Neckar dan cocok untuk bagi yang narsis foto foto. Gagal berangkat karena satu persatu mengundurkan diri ditengah rencana karena ada ini itu.

The Indonesian Face – never stop Exploring…

Baiklah, kali ini kami merencanakan untuk berlibur menikmati udara pegunungan di puncak tertinggi di propinsi North Rhein Westfalen yaitu di Winterberg. Merencanakan hiking dan backpacking di gunung hanya 48 jam sebelum berangkat, lalu mencari barang-barang yang dibutuhkan untuk  menginap semalam seperti sleeping bag dan tenda. Setelah puas karena dua minggu sebelumnya bersepeda dari Duisburg ke Paris sejauh 530 km.

Pemandangan ketika dalam perjalanan

Kami mencari tantangan lain yaitu hiking dan backpacking ke Winterberg, pegunungan dengan puncak 820 meter dpl. Winterberg, kalau musim dingin terkenal sebagai tempat untuk bermain ski, kalau musim panas dan musim semi terkenal sebagai tempat bersepeda gunung, backpacking, hiking dan tempat untuk liburan bagi orang-orang tua Jerman yang menghabiskan masa pensiunnya dengan berkumpul bersama-sama.  Winterberg merupakan tempat favorit bermain ski dan bersepeda gunung bagi daerah sekitar, bahkan orang – orang Belanda juga sering berlibur dan berlatih di sini.  Trek hiking kali ini lumayan enak, hanya 28 km dengan trek mendaki bukit dan menuruni lembah. Berhubung saya pernah mendaki dua gunung di Sumatera Barat yaitu Gunung Merapi dan Gunung Tandikek sewaktu saya kuliah di Padang dulu. Saya pikir kali ini bukanlah masalah yang besar yang hanya 800 mdpl walaupun jaraknya yang lumayan jauh 28 km. Toh, saya sudah pernah menaklukan yang lebih tinggi, mengapa harus khawatir dengan yang lebih kecil.

Salah satu trek yang lumayan..tapi ga banyak..

Terakhir kali saya ke Winterberg adalah Desember 2009, ketika itu baru tiga hari di Jerman dan langsung diajak ke daerah bermain ski. Setelah hampir 2,5 tahun tidak kesana. Mungkin inilah saatnya kesana, sekalian menemani sahabat saya yang mungkin ini adalah musim panas terakhir dia di Jerman.

Banyak yang bertanya liburan semacam ini butuh biaya yang besar. Saya jawab tidak. Karena Winterberg berlokasi di propinsi NRW. Karena saya memiliki tiket semester dari kampus dan berlaku sebagai tiket transportasi untuk seluruh wilayah propinsi NRW, jadi saya tidak perlu membayar tiket ketika berpergian kemanapun di propinsi ini. Ini salah satu manisnya kuliah di propinsi NRW ;-).

Setelah berjalan 5 km (masih senyum)

Perjalanan dari Duisburg ke Winterberg hanya memakan waktu sekitar empat jam. Kami berangkat pagi jam 8.00 biar ketika sampai di Winterberg sekitar jam 12.00 siang. Makan siang sebentar dan mulai menguji ketahan kaki dan sepatu. Di Daerah sekitar Winterberg banyak memiliki trek hiiking dan sepeda yang telah dibuat oleh pemerintah kota Winterberg. Info yang lengkap silahkan dicek di website masing masing http://www.bikepark-winterberg.de/ dan http://www.winterberg.de/.

Siapa sih yang ga mau punya rumah yang seperti ini..?

Kami berangkat berlima, Saya, Joe “Komboy” , Rizki, Radit “Kopral”  dan Reza”Damut alias Damang Imut”.hehehhe..Formasi tim Touring ke Paris   ditambah dua  orang lagi yaitu Reza dan Radit. Benar ternyata , selama perjalan saya menikmati udara segar yang sangat bersih dari polusi. Itulah sebabnya mengapa harapan hidup rata-rata orang di Jerman termasuk tertinggi di dunia. Karena udara yang mereka hirup tiap harinya bebas dari polusi.  Baru saja saya berjalan sekitar satu kilometer sudah menemukan pemandangan yang sangat menarik khas gaya Eropa abad 19 dengan kuda di depan rumah dan pekarangan yang besar. Selama perjalanan memang sering berhenti bukan karena capek, tetapi karena ingin mengambil foto-foto di tempat spot-spot yang menarik. Perjalanan 28 km selama delapan jam tidak begitu terasa letihnya. Jam 20.00 kami sampai di Camping Site. Setelah mendirikan tenda untuk menginap malam ini baru capek mulai terasa di sekitar kaki  dan telapak kaki. Benar saja, saya hanya memakai sepatu Converse All Star Chucky yang biasanya dipakai buat jalan ke kampus sekarang dipakai untuk naik dan turun pegunungan berbatu. Yaa…namanya juga mahasiswa, satu sepatu dipakai untuk acara yang berbeda beda. Begitu juga teman-teman yang lain.

Orang orang gila Duisburg ( Harry Potter vs Suparman)

Menginap di Camping Site (Camping Platz) hanya dikenakan biaya 5 euro pertenda dan 5 euro per orang. Jadi karena  kami mendirikan dua tenda dan lima orang. Total biaya yang dikeluarkan untuk menginap semalam adalah 35 euro dan berarti 7 euro (84 ribu) per orang. Untuk info tentang Camping site di Winterberg http://www.campingplatz-winterberg.de/ .

Beberapa negara akan menganggap ilegal jika camping di sembarang tempat. Tidak seperti di Indonesia yang bisa dimana saja. Seperti di Belanda, kita akan dianggap ilegal jika mendirikan tenda selain di Camping Site, dan begitu juga di Perancis dan Belgia.

Trek hiking kesayangan..

Malamnya cuaca memang tidak bersahabat. Hujan deras mengguyur tenda. Untung saya memiliki sleeping bag yang bagus ;-). Malam itu walaupun kita lagi melewati musim semi, tetapi temperatur di Winterberg drop hingga 1 derajat Celcius. Cukup membuat menggigil jika tidak mengenakan jaket juga saat tidur di dalam sleeping bag.

Paginya kita harus check out jam 10.00. Karena hari minggu, dan biasanya orang Jerman tidur sampai siang jika hari minggu. Jadwal bus dan kereta hanya setengah dari frekuensi hari kerja. Benar saja, hari Minggu pagi yang hujan, 1 derajat Celcius dan harus kembali ke pust kota Zuschen, tempat dimana kami harus naik bus untuk kembali ke Winterberg. Bus dari Zuschen baru mulai beroperasi jam 14.30.  Rencananya mau jalan lagi dari Zuschen ke Winterberg yang hanya 8 km, tetapi karena kaki udah mulai pada lecet dan telapak kaki juga sakit karena sepatu tidak cukup lembut buat menahan tekanan dari batu selama perjalanan.

di depan camping site Zueschen

Setelah menunggu hampir 4,5 jam di sekitar kota Zueschen http://www.zueschen.de/ tanpa pasokan makanan lengkap dari pagi karena tidak ada toko dan supermarket yang buka hari Minggu. Kalaupun buka hanya dari jam 8.00 – 10.00.  Kebetulan hari itu ada festival juga di Zueschen. Festival musik dan makan -makan kecil bagi kota berpenduduk 13.000 jiwa itu. Setidaknya kami telah melwati beberapa hal yang sangat sulit diulang walaupun punya banyak waktu sebenarnya.

Bersepeda melintasi empat negara sudah, mendaki dua gunung juga sudah, mendaki puncak di propinsi juga NRW sudah. Kalau ada uang dan waktu rencana berikutnya melintasi Alpen dari Muenchen (Jerman)  menuju Venezia (Italia) by foot… Cuma 500 km, bisa selesai selama sebulan http://www.muenchenvenedig.de/ ..spoiler foto-foto http://www.flickr.com/photos/muenchenvenedig/sets/72157624724321523/with/4948308624/

Ada yang mau ikut….?

Muelheim ad Ruhr, 16.06.2012

Bayu van Adam

Pariaman to Paris via Duisburg

Musée du Louvre – Paris

“I’ve learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you’re climbing it” Maher Zain

Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir mengatakan bahwa suatu saat saya ingin ke Paris ketika masih di Indonesia. Yang saya ingat adalah ketika saya kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung tahun 2009. Sahabat saya yang juga sekarang mati-matian belajar biar bisa lulus dari Univ Duisburg Essen masih ingat betul perkataan saya dulu di depan kelas Goethe bahwa suatu saat saya ingin menulis buku tentang berkelana di Eropa. Mudah-mudahan nanti kesampaian.

Kata “Paris” pertama adalah singkatan kerennya kota kelahiran saya di tepi Samudra Hindia yaitu “Pariaman Sekitarnya”. Ya, maklumlah karena saya berasal dari kota kecil berpenduduk 70.000 jiwa belum terbayang bahwa suata saat saya akan berada di Paris (Perancis) sebenarnya. Tapi kalau mimpi bolehkan…?. Cuma mimpi yang boleh gratis sekarang kok. Saya berasal dari kota kecil di Pariaman (Sumatera Barat), menghabiskan 20 tahun disana sebelum akhirnya merantau ke Padang, menyelesaikan Sarjana di padang dan kemudian ke Bandung untuk belajar bahasa di Goethe Institute. Kemudian keluyuran ke Eropa akhirnya ibu kota negara Eropa keenam yang saya singgahi adalah Paris. Tiga kota diataslah yang menjadi titik pertemuan perjalan saya dari Pariaman ke Paris via Bandung.

Joe dengan trek kesayangannya di sepanjang daerah Perancis – Le Quesnoy (Perancis)

Saya memang bukan orang yang pintar dalam soal akademik. Kalau saya pintar, di umur saya yang 27 tahun seharusnya saya sudah berada di tahun kedua kuliah PhD atau Doktoral. Kenyataanya, kuliah Master aja masih belum beres..hehehehe. Bukti saya kurang pintar lagi  adalah bersepeda dari Duisburg (Jerman) ke Paris (Perancis) melalui Maastricht (Belanda) – Brussel (Belgia) – Saint Quentin (Perancis) sejauh 530 km selama 6 hari 4 jam. Kenapa tidak naik Thalys (Kereta cepat Perancis) saja dari Duisburg ke Paris?. Duduk selama  5 jam dengan biaya 39 euro  sekali jalan dan selamat sampai di tujuan. Beres kan?. Itulah hitung hitungan pintarnya.  Tidak perlu berhadapan dengan kematian ketika melintasi jalur jalan cepat di Perancis dan ditabrak oleh Taxi di Paris. Menurut nalar logika ibu saya memang begitu. Dan disitulah letak bodohnya laki-laki yang sampai sekarang tidak dimengerti oleh perempuan kali ya. Kalau di iklan Djarum Super bilang  “Pria Punya Selera”. Ya…wajar. Laki-laki normal memang punya selera dan butuh tantangan dalam hidup. Sejak jaman batu laki-laki memang sudah harus berburu kijang di hutan untuk bertahan hidup. Sejak tulah yang namanya tantangan dan kompetisi ada. Oleh karena itu jaman mulai dan bisa berubah dari jaman batu, logam, industri dan teknologi informasi. Sebagian besar penemuan dunia juga diciptakan oleh laki-laki bukan?. Dalam quote dari Anonym “ Only a man can make His Story and History“. Kalau ada perempuan yang tidak setuju tentang quote ini boleh kursus bahasa Inggris lagi ya.

Let’s say No Pain No Gain – Paris

Sejak jaman dahulu memang setiap laki-laki telah dan harus membuat History dalam kehidupannya. Apakah dia pintar, dapat beasiswa, juara kompetisi dunia, menemukan penemuan terbaru atau jadi bintang iklan Djarum Super. Sayangnya semua kriteria yang saya sebutkan diatas tak satupun ada pada saya. Ya sudah, akhirnya His Story dan History saya cuma bersepeda dari Duisburg ke Paris. Cukuplah buat mengisi CV kehidupan nanti kalau ada yang nanya “what is the best moment so far in your life, dude?“. Saya jawab aja ” Riding a bicycle for 6 days 4 hours crossing 4 countries for 530 km from Germany to France” . Jawaban karena tidak ada pilihan yang lain. Kalau anak Engineering memang begitu ya bicaranya harus pakai data dan angka yang valid. hehehe.

Salah satu daerah pertanian di perbatasan Belgia dan Perancis

Kami berangkat bertiga (Saya, Rizki dan Joe) berangkat dari Muelheim ad Ruhr (kota kecil damai tetangganya Duisburg), kami tinggal di kota ini tapi beda rumah. Saya dan Rizki kuliah di jurusan yang sama yaitu Computational Mechanic dan Joe kuliah di Water Management and Technology. Meskipun kami masing masing-masing sudah tinggal minimal 2,5 tahun di Jerman, tapi tak satupun dari kami yang pernah jalan2 di Paris. Aneh kan?..Dan meskipun Paris sangat dekat, tapi tidak ada keinginan saya sama sekali kesana. Alasannya cuma satu. Tak ada moment yang spesial untuk melangkah pertama kali ke Paris. Dulunya cita-citanya mau sama pacar atau bojo (istri dalam bahasa Jawa,red) aja ke Paris.hehehe. Biar menikmati pemandangan kota Paris yang cihuyyy buat jalan sore-sore. Oleh karena itu kami hanya semalam di Paris tanpa jalan-jalan mengelilingi Paris lagi. Biar disimpan buat kedua kalinya nanti kalau ke Paris. hehehe

Joe – Rizki – bayu…We’ve done…Unglaublich…Eiffel Tower – Paris

Ada beberapa hal yang tidak dapat diukur dengan materi setelah sampai di tujuan. Setelah wajah dan tangan gosong terbakar oleh teriknya matahari musim panas eropa, setelah lutut kaki yang sakit karena harus melewati wilayah Belgia dan Perancis yang seperti grafik Sinus dan Cosinus alias tanjakan dan turunan tanpa henti dari Maastricht ke Paris, setelah saya memotong matras untuk dijadikan alas buat pinggul saya yang sakit karena jok sepeda saya yang terlalu  keras, setelah lebih dari 2 hari hanya bermandikan keringat tanpa pernah mandi di bawah shower, setelah mengayuh sepeda seharian yang diawali hanya dengan Indomie dan abon di pagi hari, setelah mendengar suara Piano aneh di tengah hutan belantara Perancis jam 01.00 dini hari, setelah ditabrak Taxi di Paris dan setelah mengalahkan rasa putus asa di tengah perjalanan apakah kami akan menyelesaikan perjalanan ini atau tidak. Itulah bentuk sebuah kepuasan . Menaklukan Paris dengan cara yang berbeda. “For BvA Paris is not only a romatic and beautiful city, but also his story and history to be told to his descent“.

Manneken Pis – Brussel (Belgia)

Ketika berada di tengah hutan pedalaman Perancis, rasa putus asa sempat muncul sambil bercanda.”Bagaimana kalau kita balik ke Jerman pakai ICE aja jek?”. Sebuah pilihan yang sama sekali tak butuh dipilih. Mana ada ICE ditengan hutan begini. Padahal perjalanan baru 200 km masih ada 330 km sisa. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam, kami tak tahu persis berada dimana, tujuan di peta yang diprint atas informasi Google Maps sewaktu di Waterloo (Belgia)  masih ada 4 lembar lagi yang artinya ada sekitar lebih kurang 30 km lagi untuk mencapai tujuan yaitu Camping site di pedesaan Perancis (Le Quesnoy). Satu satunya pilihan cuma mengayuh sepeda lagi sampai di tempat tujuan jam berapapun, sejauh apapun dan dimanapun. Pokoknya harus sampai disana.  Baru saya sepenuhnya menyadari bahwa orang-orang yang biasa jika mengeluarkan seluruh kemampuannya akan menjadi luar biasa dari pada orang luar biasa yang bertindak biasa saja. Padahal malam itu kaki sudah gemetaran karena tidak ada energi yang masuk ke badan. Padahal kami ga cukup bekal dalam perjalanan dari Brussel ke Le Quesnoy (Perancis). Dan Celakanya hari itu adalah hari Minggu. Semua toko tutp dan tidak ada satupun yang buka pada hari itu. Kecuali saya yang makan banyak di rumah teman kami Devay yang sedang ambil PhD di Brussel tempat kami menginap semalam di Brussel. Rizki dan Joe pagi itu makan alakadarnya saja karena lambung mereka yang kecil kali ya..hehehe. Iya, berat mereka berdua  memang dibawah 60 kg dan saya melejit sendirian diatas 73 kg. hahaha.

Akhirnya…sampai juga di tujuan..Menara Eiffel – Paris 2012

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di Le Quesnoy sekitar jam 01.25 esok harinya setelah 14 jam perjalanan dari Brussel. Saya juga tidak terlalu ingat waktu pastinya karena setelah kami mendirikan tenda di Camping site di Le Quesnoy, kami langsung tertidur pulas tanpa menghiraukan perut yang keroncongan karena belum makan siang dan makan malam. Dan sayangnya kali ini saya harus menghiraukan perut yang keroncongan di tengah malam. Lumayan, hari ini ada sup ayam buat makan malam.hehehehe…Bersambuuung..

00.16 Muelheim ad Ruhr, 01.06.2012

Bayu Van Adam

http://about.me/bayuvanadam

Apalah arti sebuah nama…

http://www.stanford.edu

Barangkali beberapa dari pembaca mungkin pernah menonton film percintaan legendaris “Romeo dan Juliet“. Kisah yang diangkat dari romannya William Shakespeare. “Apalah arti sebuah nama…” tuang  pikiran Shakespeare dalam roman beliau tersebut. Konon kisah percintaan ini berlatar nama belakang atau nama keluarga yang mengakibatkan kedua insan yang dimabuk cinta tak dapat bersatu. Romeo bertanya kepada Juliet ” Apa sih arti nama Capullete?”, dan dari sini semua kisah dimulai.

Bagi yang pernah mengisi form, atau yang pernah keluar Indonesia. Nama keluarga atau “Family name” menjadi sangat penting. Sebagian besar orang Indonesia bahkan tidak memiliki nama keluarga atau nama mereka hanya terdiri dari satu kata. Sama halnya dengan nama ayah dan ibuku yang hanya satu suku kata.

Di Eropa atau orang barat secara keseluruhan sangat mudah mengenali asal nenek moyang meraka dari nama keluarga mereka. Saya sudah mengamati ini semenjak saya menyukai sepakbola di tahun 1996. Dari situ mengetahui bahwa setiap pemain sepakbola mengenakan nama keluarga mereka di punggungnya. Semua orang akan tahu bahwa dulu ada dua generasi Maldini di Italia. Paolo Maldini dan  Cesare Maldini. Benar, nama yang pertama disebut adalah anak dari nama yang kedua. Nama tersebut begitu besar artinya bagi Italia dan AC Milan. Sampai nomor punggung mereka tidak akan dipakai oleh pemain lain alias dipensiunkan dan menjadi sejarang dalam klub AC Milan.

Di negara seperti Jerman dan Inggris Raya. Nama belakang mengandung arti yang menyatakan asal usul nenek moyang mereka. Nama seperti Schweinsteiger (peternak babi), Schneider (tukang jahit) atau Smith (pandai besi). Dalam dunia perbisnisan Indonesia juga akan banyak menemukan mereka yang menyandang nama keluarga mereka dan diwariskan kepada anak-anak mereka. Lihat saja nama Sandiaga S Uno, Sampoerna atau Bakrie. Tentunya kita tahu dong siapa mereka?.

Untung saja sampai saat ini saya tidak pernah mengalami masalah dengan nama keluarga. Dari dulu sampai sekarang ketika ditanya ataupun mengisi form apapun. Saya tidak pernah ada keraguan dalam menuliskan nama belakang saya. Begitu juga adik-adik saya yang juga memiliki nama belakang sama seperti saya. Saya sungguh tidak pernah menyangka bahwa pencarian nama saya di Google sudah bisa ditebak dalam huruf kelima oleh Google. Benar, Google saya yakin adalah seorang perempuan. Dia mencoba menebak-nebak maksud saya sebelum saya menyelesaikan maksud saya yang sebenarnya.hehehehe..

Saya masih ingat dengan teman-teman Indonesia di Jerman yang hanya memiliki satu nama saja tanpa memiliki nama keluarga di belakangnya. Akhirnya, dibuatlah bahwa nama keluarga mereka adalah pengulangan nama depan mereka. Kadang hal ini juga membawa kebingungan di beberapa instansi ataupun dalam pengurusan surat-surat diluar Indonesia. Tapi tidak akan menjadi masalah yang terlalu besar kok.

Seperti dalam video Band Peterpan “Sebuah nama sebuah cerita“. Begitu pentingnyakah sebuah nama keluarga di belakang nama kita?. Boleh saja menjawab Iya atau Tidak. Tergantung kepada prinsip masing-masing. Yang jelas, Leland Standford, Bill Gates, Steve Jobs atau Mark Zuckerberg dan Sandiaga Uno telah menceritakan kepada dunia bahwa mereka telah dan sedang membuat cerita dan sejarah baru untuk anak cucu mereka. Kelak satu abad kemudian (kalau belum terjadi kiamat akhir 2012) semua orang akan mengingat bahwa mereka adalah orang-orang hebat dimasanya dari nama keluarga mereka.

Saya masih ingat, sekali dua kali diminta usul untuk memberikan nama sebuah anak. Ya sudah, saya bilang saja “Bagi saya nama itu cukup dua suku kata. Nama depan adalah nama panggilan, dan nama belakang adalah nama keluarga kamu. Buat saya mudahnya pengejaan dan arti dari sebuah nama juga sangat penting. Simple but meaningful. Kalau kamu ga punya nama keluarga, mungkin inilah masanya memikirkan nama keluarga untuk anakmu, agar nanti akan jelas silsilah keturunan kamu. Mungkin kamu tidak akan tahu bahwa suatu saat adalah masa bagi anakmu menjadi unggul dan berpikir mendahului generasinya yang akan membuatmu bangga menjadi bagian dari nama tersebut.

Teman saya balik menanya “Kalau lu bagaimana Bay?…”. Ga usah lu pikiran gue jek..gue udah ada nama keluarga kok dari dulu, tinggal gue warisi aja lagi. ..Nama keluarga gue udah Adam, tapi sepanjang pencarian kok ga ada ya yang nama belakangnya perempuan Hawa. Yang ada cuma nama anaknya si Nafsu alias Hawa Nafsu…hehehehe..

Ga enak juga kalau punya nama sama kayak penyanyi terkenal.Sometime people say that I am a brother of Brian Adams…hehehehe..Dont. take too serious jek.

Muelheim ad Ruhr..20.04.2012

BayuyangpusingdengantugaspemogramanMatLabPythonC++danFortrandalamsatusemester..

Bayu van Adam

http://about.me/bayuvanadam