Cintaku berlabuh di Zürich

Musim panas 2014 di Zurich memang indah. Siapapun yang pernah ke Zurich mungkin tidak akan pernah melupakan bahwa mereka pernah di sana. Kota dimana ketika musim panas langit menjadi biru terang dan dari kejauhan tampak pegunungan Alpen yang diduduki oleh putih salju yang menempel di atas puncaknya. Udara khas eropa barat yang bersih dan segar menambah puji syukur atas anugrahNya. apalagi yang kurang?. Yang kurang cuma pagi ini aku harus membeli beberapa peralatan kamar tanpa guide di kota baru ini alias kemana mana ngacir sendiri. Memang, aku baru saja pindah dua hari yang lalu dari kota kecil di wilayah Jerman. Tentu saja pindah ke kota besar menjadi sesuatu yang baru dan sangat spesial bagiku.

Seperti biasa pagi ini aku cuma sarapan Baguette (roti khas Perancis) saja. Aku memang tidak suka makan besar di pagi hari. Alasanya bikin mengantuk kalau kuliah apalagi sekitar jam 10.00an. Oleh karena itu aku lebih suka sarapan dengan segelas the panas dan baguette di lapisi dua telur dadar. Ya, masakan gabungan Perancis ala mahasiswa telur dadar. Hehehe. Ah…masa bodoh yang penting giziku cukup pagi itu.

Pagi itu aku bangun memang lebih awal dari biasanya. Satu satunya alasan hanya aku ingin melihat matahari menyinari wajahku sambil jogging di pinggiran danau Zurichsee . Kata orang Jerman  „der Morgen macht den Tag“ oleh karena itu aku harus bangun pagi-pagi jika ingin hari ini bermanfaat. Kalau tidak, mungkin sama saja dengan sifat lamaku di Jerman dulu yang berakibat berlalunya  beberapa musim sebelum studiku selesai.Pagi ini aku cuma ingin melihat apakah memang benar Zurich pada musim panas secantik dan anginnya yang lembut keibuan seperti bayanganku  Catherine Zeta Jones dalam parasnya yang padat bergaun merah panjang. Aku bayangkan kalau Catherine dikasih baju adat Minang dengan sanggul diatas kepalanya, dan juga dibalut baju merah yang terang benderang plus perhiasan yang mengkilat keemasan mungkin semua laki-laki akan iri kepadaku.

Setelah selesai joging disekitar danau pagi itu aku langsung pulang ke rumah. Tapi kali ini aku pulang mengunnakan Strassen bahn, walaupun sebenarnya jarak antara lokasi jogging dengan Apartemenku hanya 20 menit jalan kaki. ” Untuk menyimpan tenaga buat angkat-angkat barang nanti” pikirku.

Ternyata aku bukan hanya menyimpan tenaga tetapi juga telah menyimpan harapan di dalam Strassen Bahn ini. Secara tak sengaja aku dipertemukan oleh ikatan atom-atom yang masih mengalirkan arus listrik dari hati ke hati dan dari hari ke hari. Benar saja, gadis hidung mancung tinggi semampai, bermata coklat tetapi berambut hitam agak kecoklatan seperti ekor kuda melihat kearahku dengan serius dan sedikit mengerinyitkan dahinya. Aku yang terbiasa super cuek, tanpa sadar juga melihat kearah gadis ini. Tak pelak lagi senyum paling indah hari itu muncul di wajahku. Lalu Irina juga membalas senyumku sambil berdiri. Aku menghampiri Irina “Irina ,ada keperluan apa kamu ke Zuerich…?” tanyaku dengan suara berat. “iya Yuda, ada beberapa keperluan” balas Irina dengan lembut dengan logat Indonesia Britishnya. Benar saja, pagi itu jantungku berdebar lebih keras walaupun aku tidak dalam berlari atau jogging. Peluhku semakin banyak bercurun walaupun hari masih pagi jam 9.00 dan juga belum terlalu panas.

Irina adalah gadis keturunan Swiss-Indonesia.  Lahir di Marseille kota di selatan Perancis karena ayahnya bekerja di sana pad waktu itu, tetapi kemudian umur enam tahun pindah ke Manchester di Inggris juga karena ayahnya dipindahtugaskan.  Aku secara tak sengaja ketemu Irina ketika aku menonton bola di Old Trafford setahun yang lalu. Ketika masuk ke dalam stadion aku menemukan ID atau KTP yang tercecer di dekat loket pembelian tiket. Dari nama yang aku baca “Irina Aisyah Berner”, aku kira ini adalah wanita muslim keturunan Pakistan –Inggris, karena dari foto wajahnya di ID khas sekali seperti aktris film India Katrina Kaif.

Aku sebenarnya mau memberikan ID ini secepatnya ke meja Informasi, tetapi karna pertandingan antara Manchester United vs Chelsea segara dimulai. Lalu aku mundurkan niat ini untuk nanti pada waktu break di babak kedua saja aku menyerahkan ID ini. Maklum, pertandingan ini adalah pertandingan big match. Aku tidak mau dong melewatkan line-up susunan pemain sampai pertandingan dimulai. Ini memang pertama kali aku ke Inggris, makanya aku tidak ingin melewatkan apa saja di Old Trafford.

Pertandingan babak pertama baru saja dimulai dan pertandingan begitu seru sampai menghasilkan 3 kartu kuning sore itu. Babak pertama hampir habis dan wasit memberikan 3 menit Stoppage Time dan sekarang tiba kewajibanku untuk memberikan ID ini ke meja informasi di lantai bawah. Aku sempat juga kebingungan mengingat Old Trafford begitu besar dan harus berjalan sana sini. Untungnya di Eropa secara umum semua petunjuk pasti ada, akan malu sekali kalau bertanya arah ini itu dan ternyata papan infonya ada di depan kita. Mencari tahu sendiri dulu mungkin adalah option paling utama dan paling cerdas.

Ternyata di depan kantor informasi ada seorang gadis yang berbicara dengan petugas informasi tersebut. Akhirnya aku harus menunggu 5 menit sebelum aku juga mulai bicara juga. Di meja Informasi saat itu memang cuma ada satu petugas. Otomatis aku mendapat kesempatan bicara setelah selesai  urusan gadis ini.

Gadis ini terlihat sedikit bingung entah karena apa dan duduk di kursi di depan kantor. Setelah aku bicara dengan petugas informasinya dan memberikan kembali ID ini gadis ini juga masih bingung. Lalu petugas informasi ini memanggil gadis tersebut dan menanyakan„ This guy has found an ID card. Is this yours?. “  Tanya petugas tersebut kepada gadis tersebut. Setalah gadis tersebut bangkit dari duduknya dan melihat bahwa ini memang ID miliknya. “yes, this is my ID card”. Lalu gadis ini bilang terima kasih kepadaku “Thanks so much”.. “Yuda, Yuda is name” potongku. Ohh..”Thanks so much Yuda, I am Irina” balas Irina dengan logat Britishnya.

Lalu setelah berbicara sekitar 7 menit tentang dimana aku menemukan IDnya dan berbicara tentang apa tujuanku ke Manchester dan lainya secara singkat. Baru tahu aku bahwa dia ada darah Indonesianya dari ibunya. Lalu sambil jalan kami kembali duduk ke tribun. Arahnya memang sama, cuma beda nomor kursi saja. Irini duduk sekitar 30 meter arah kiriku dan 5 tingkat bangku dibawahku. Berarti Irina tepat sekali mengambil tempat duduk yang paling strategis dan aku hanya bisa membeli tiket standar saja di dekat sudut lapangan. Yang penting bisa menonton bola disana pikirku.

Dalam perjalanan tadi kami memang memiliki janji untuk bertemu kembalii di kantor Informasi. Tapi kali ini bukan untuk menyerahkan ID card lagi tetapi untuk menyerahkan pengetahuan Irina tentang Manchester kepadaku. Irina menawari dirinya untuk menjadi guide di Manchester setelah pertandingan itu. Berhubung waktu musim panas masih panjang dan pertandingan biasanya jam 17.00 sudah berakhir.

Pertandingan 45 menit berlalu lebih lama dari biasanya. Apakah perasaanku saja atau memang pertandingan tak menarik lagi setelah aku ketemu yang lebih menarik tadi di Information Centre, jadi seolah terasa lebih lama waktu berputar. Setelah selesai pertandingan aku bergegas menuju Informasi, bukan apa-apa, sebelumnya aku harus ke toilet dulu supaya nantinya selama diguide tidak pergi lagi ke toilet, jadi bisa menghemat waktu. Ternyata karena serentak fans keluar dari stadion dan sangat banyak, akhirnya waktu di toilet antri juga. Butuh sekitar 15 menit juga untuk sampai ke Information Centra, dan di sana ternyata telah menunggu dengan sabar Cetherine Zeta Jones waktu mudanya. Lalu aku minta maaf karena telat sekitar 10 menit dan membuat dia menunggu lebih lama. Irina bilang kalau dia lebih suka bicara bahasa Indonesia dengan ku. Memang Irina termasuk lancar berbahasa Indonesia, walaupun masih ada beberapa kosa kata yang dia tidak tahu namanya. Aku maklum, dia besar bukan di budaya dan negara Indonesia. Terlalu banyak kultur yang mempengaruhi kehidupannya. Mulai dari sifat kerja keras bangsa Jerman dan Swiss dari ayahnya, ayu dan lembutnya nya sebagai perempuan dari Ibunya yang Indonesia, sifat romantis khas Perancis yang mungkin sedikit banyak menular ketika dia di sekolah taman kanak kanak di Marseille dan kemudian melebur menjadi satu dengan budaya Inggris.

Setelah selama hampir 45 menit kami berbicara panjang lebar sambil berjalan mengitari daerah kota Manchester. Aku melihat Irina mulai kelelahan berjalan. Lalu aku minta maaf, maaf karena telah membuat dia lelah berjalan 45 menitan. „Kamu capek Irina?..maaf ya, aku ga sengaja meminta kamu jadi guide ku di sini“. Karena aku telah membuatmu berdiri selama 45 menit. Bagaimana kalau permintaan maaf ku  ditebus dengan duduk makan es krim 45  menit juga“ tanyaku. „Impas kan?“ tambahku… Irina menyetuji dan menunjukan tempat makan es krim paling enak dan juga tidak terlalu mahal di pusat kota Manchester.

Empat puluh lima menit duduk makan es krim juga telah berlalu dan Irina juga ada janji setelah itu sekitar jam 19.30. Lalu aku meminta apakah aku boleh mengetahui alamat Facebooknya dan emailnya. Tanpa ragu Irina mengabulkan  kedua permintaan ini. Lalu setelah mengantar Irina ke jalan London Road tepat persis di depan Hotel International yang berwarna merah tua bata. Aku pun balik mengitari kota Manchester dan sekitarnya.

Setelah hampir setahun tidak bertemu dan hubungan via FB atau Email pun jarang kulakukan dengan Irina. Akhir tahun itu memang aku sangat sibuk dengan tesisku di Universitas dan perusahaan tempat aku praktikum juga.  Ya, wajar saja Facebook bukan lagi menjadi social network nomor wahid di dunia saat itu. Paling aku tanya kabar dan say hello sesekali saja dengan Irina. Pertemuan yang cuma 2×45 menit tersebut serasa sangat singkat. Bagai sebuah pertandingan bola tanpa jeda istrirahat. Sayangnya aku juga harus mengistirahatkan tulisanku disini dulu. Mungkin besok disambung lagi..mau mandi dulu setelah jogging tadi pagi..

Cerita ringan di hari Minggu..

 

Yuda..

25 thoughts on “Cintaku berlabuh di Zürich

  1. so süß, mas saran aja, jgn minum teh sesaat sblum ato ssudah mkan, minum ny kalo udh agk lama aj sblum/ssudh mkan. Hehee.. Mgkin saran ini gk pnting sih, tp trust me it works :))

  2. Yuda?
    Namamu siapa to mas?
    Bukannya cuma bayu adam
    Ŵ媪ªĤ Ŵ媪ªĤ , bau baunya jidoh kali itu mas.

  3. Klo Yuda bukan kamu, berarti udh bisa nulis fiksi dong sekarang. Menulis roman dr kisah orang lain. Hmm…perkembangan yg bagus. hahaha…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s