Ketika berpartner dengan Pertamina

Salah satu mobil tanki Pertamina 8000 liter

Semakin hari semakin banyak saja berita menarik dan positif tentang Indonesia. Baru saja membaca berita di sebuah surat kabar online sudah muncul kiranya mobil listrik hasil dalam negeri. Saya memang selalu ingin berpikiran positif. Terserah apakah nanti mobil listrik ini akan diproduksi massal atau terkubur bersama ambisi politik. Menumbuhkan dan menyebarkan sikap pesimis memang sangat mudah, semudah angin menerbangkan serbuk sari bunga yang menyebar kemana mana, tetapi menumbuhkan sikap optimis perlu kerja keras dan kerja cerdas.

Diharapkan nantinya mobi listrik ini akan mengurangi subsidi minyak kita tahun 2012 yang telah mencapai 137 Triliun (137.000.000.000.000). Cukup untuk membuat beberapa kolam renang duit standar Olimpiade dengan uang sebanyak itu atau membeli satu juta unit mobil Avanza. Uang sebanyak 137 Triliun itu hanya untuk dibakar dan dijadikan asap. Begitulah standar kekayaan Indonesia. Walaupun kita nantinya berhutang lagi untuk menutupi subsidi, masa bodoh, yang penting BBM harus ada “desak rakyat.

Dengan konsumsi minyak kita yang mencapai 1,3 juta barel (1 US barel = 117,347 liter) perhari dan produksi minyak kita hanya 900.000 barel otomastis kita mengalami defisit 400.000 barel perhari. Sekarang tinggal kalikansaja dengan 365 hari. Itulah jumlah defisit minyak kita dalam setahun. Harga minyak dunia dapat dilihat di sini http://www.oil-price.net/ . Kekurangan 400.000 barel perhari tersebut harus ditutupi pemerintah dengan cara mengimpor dari negara atau perusahaan lain dan tentunya dengan harga beli yang lebih mahal daripada harga jual yang rendah di dalam negri.

Kalaupun banyak diantara tamatan perguruan tinggi yang berlomba lomba bekerja di daerah yang berminyak itu wajar. Itu adalah lahan basah dan enak. Jika seseorang bekerja di sebuah perusahaan MNC Oil dan Gas, otomatis akan merubah nasib keluarga menjadi lebih baik walaupun belum tentu bisa merubah perusahaan menjadi jauh lebih baik.

Kalau bicara tentang bisnis minyak dan perusahaan minyak. Jauh sebelum teman-teman saya bekerja di perusahaan tersebut saya sedikit banyak sudah mengetahui setidaknya sedikit ilmu kalkulasi di bidang ini. Kebetulan kakek saya adalah agen pangkalan dan penyalur minyak tanah dulunya, sejak ibu saya masih kecil. Keluarga besar kami telah menjalankan bisnis ini dengan bermitra dengan Pertamina dan anak perusahaannya.

Dari kecil saya sudah diajak oleh kakek pergi kesana kemari dengan mobil tankinya yang berkapasitas 3000 liter pada waktu itu. Jangan heran pada waktu usia 3 tahun saya sudah lancar membaca dan berhitung karena terlalu sering melewati papan reklame dan semua yang dilewati di jalan saya baca. Saya memang dari kecil sudah diajak jalan kesana kemari. Maklum sebagai Cicit, Cucu dan Anak pertama semuanya memberikan perhatian yang penuh kepada saya. Baru pada umur 9 tahun lah saya resmi menjadi kernet mobil tanki minyak kakek saya. Tugasnya sederhana, hanya mengambil uang dari pembeli minyak tanah sampai uang tersebut rapi dan siap untuk membeli minyak barang satu atau dua tangki lagi.

Mendistribusikan minyak tanah ke kota kota lain bahkan sampai ke desa desa adalah agenda setiap hari. Kakek saya bertugas mengisi minyak ke Drum sedangkan saya mengambil dan menghitung uang dari pembeli minyak tersebut. Menghitung uang apakah pas, kurang atau berlebih. Kemudian menyusun uang sesuai nominalnya agar nanti mudah menghitung jumlahnya. Kemudian membuat pembukuan dan mencatat daerah mana saja yang telah diisi berdasarkan list hari ini. Membagi tugas supaya kerjaan cepat selesai dan langsung berangkat ke tujuan pengisian drum selanjutnya. Memegang uang dengan nominal banyak ketika anda baru saja berusia 9 tahun memang sangat membanggakan. U are boss at that time. Lalu Alm kakek bertanya ” Berapa penjualan hari ini yu? Pas ga? atau ada yang kurang..”. Diberi kepercayaan penuh untuk anak seusia itu memang merasa sangat dipercayai dan dihargai.

Pada waktu itu harga minyak tanah masih sekitar Rp 40.000 per drum (1 drum = 200 liter). Dalam sehari bisa menyalurkan dua tangki atau sekitar 30 drum. Ketika itu minyak tanah masih menjadi primadona. Tak jarang hanya bisa mengunjungi dan mengisi drum daerah yang telah memiliki janji satu minggu sebelumnya. Berangkat dari Pariaman kemudian menjemput minyak di Padang, kemudian mendistribusikannya di daerah sekitar Pariaman sampai ke Lubuk Basung.

Dalam hati saya berpikir berapa ya untung jualan minyak ini..?. Anggaplah pada waktu itu harga eceran minya tanah dipenjual Rp 250 perliter dan saya hanya menjual dengan harga Rp 200 perliternya kepada mereka. Mereka mendapat untung Rp 10.000 setiap satu drum. Kalau saya ambil untung Rp 30 saja perliternya, dengan 6000 liter setiap hari berarti saya memperoleh laba kotor Rp 180.000 perhari di tahun 1994. Saya tidak terlalu memperdulikan soal laba ruginya. Yang penting saya telah mendapat apa yang teman teman lain tidak dapatkan.

Sayang minyak tanah saat ini tidak menjadi primadona lagi. Memang semuanya harus segera berubah menjadi lebih baik. Tak terkecuali Indonesia, konsumsi minyak kita yang hanya kalah boros dari US dan China. Alih bahan bakar Minyak tanah ke Gas merupakan salah satu solusi yang sangat baik, hanya tidak ditunjang oleh tabung gas yang bagus akibat salah satu pihak gagal menjadi rantai keberhasilan atau salah satu pihak sengaja memutus rantai ini.

Alangkah bagusnya juga kalau 137 T ini juga nanti dialihkan kepada keperluan lain yang lebih bermanfaat selain membakar menjadi asap. Hanya dengan menyisihkan 5 Triliun setiap tahunnya untuk beasiswa, minimal ada 8000 anak Indonesia yang belajar teknologi abad 21 di negara maju seperti Jerman, Rusia, US, Swedia, Jepang atau Korea Selatan. Dalam 10 tahun kita mungkin akan menghasilkan 80.000 Engineer terampil dan menginspirasi di bidangnya yang siap membangun Indonesia dari masing masing sisi mereka. Atau katakanlah uang yang 32 T itu kita habiskan kepada riset dan penelitian dalam negeri, membangun infrastruktur transportasi dan logistik yang cerdas, membangun ruang hijau dalam kota, membangun sistem drainasi kota besar agar tidak lagi banjir. Memang 32 T terlihat sangat kecil untuk infrastruktur, tapi kalau tidak dicicil tak akan jadi jadi . Mungkin tahun depan cukup 100 T saja yang dijadikan asap. Itupun sudah cukup membuat nafas kita sesak.

Memang semuanya dalam kalkulasi kelihatan mudah, semudah mengedipkan mata. Tapi kalau bukan berhitung dari sekarang, kapan lagi kita mulai berhitung. Tak ada alasan untuk telat mengkalkulasikan kapan seharusnya kita berada di depan. Di Jerman saja ketika anda mengandarai mobil dan melihat lampu kuning, anda harus menghitung jarak mobil terhadap lampu kuning dan kecepatannya. Menghitung di luar kepala secara cepat dan tepat. Apakah anda harus menginjak rem atau menginjak pedal gas. Semua ada rumus matematiknya. Kalau hitung hitungan anda salah maka bisa jadi kecelakan. Disaat anda terus melaju terhadap lampu kuning dari arah yang berlawanan ternyata lampu hijau telah menyala.

Bukan zamannya lagi kita meminta belas kasihan dari negara lain atau menunggu pemerintah negara lain memberi beasiswa buat anak kita. Anak kita, kita yang mengurus, kita yang menyekolahkan dan tanggung jawab kita. Kalau tidak mampu menyekolahkan anak, tidak usah buat anak banyak. Kalau orang tua saya tidak peduli dengan pendidikan, tak mungkin mereka menyekolahkan saya sampai ke Jerman. Di Minangkabau pendidikan itu mulai dari zaman M Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir sampai sekarang tetaplah nomor satu setelah nomor utama Agama. Jangan heran kalau di desa desa Minangkabau orang tua rela menggadaikan harta mereka hanya untuk melihat anak mereka menjadi seorang Sarjana. Terlepas apakah nantinya dapat pekerjaan atau tidak itu tergantung semangat anaknya masing-masing. Uang bisa dicari dan tidak dibawa mati, orang tua hanya cukup meninggalkan bekal ilmu yang bermanfaat dan agama kepada anak mereka.

Tak heran saya dengan keberhasilan teman-teman kuliah saya yang bisa mengangkat kehidupan sosial keluarga mereka satu tingkat setelah mereka menyelesaikan kuliah. Ketika sahabat saya memberitahu saya bahwa klien di perusahaan dia adalah beberapa MNC dan BUMN besar di Indonesia semakin menumbuhkan rasa optimis saya bahwa suat saat saya harus/mungkin berada satu tingkat diatas kakek saya dalam soal partner dengan beberapa perusahaan tersebut. Passion saya ketika umur 9 tahun masih ada sampai sekarang . Wallahu alam…Allah knows the best..

Tugas dan persoalan yang rumit mungkin sudah menunggu kita sebelum dilahirkan. Semuanya memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan tulisan ini, kritikan dan hanya bicara saja, tetapi butuh ide kreatif, solusi, tindakan dan bekerja, bekerja dan terus bekerja..

Muelheim ad Ruhr, 27.06.2012

Bayu van Adam

7 thoughts on “Ketika berpartner dengan Pertamina

  1. Always, bay. Good post!
    Ranah tacinto selalu menjadi sumber inspirasi.
    Alam takambang jadi guru. Tapi pengalaman dan pengamatan disekitar juga menjadi guru untuk melangkah selanjutnya.
    Goodluck! Semoga pulang ke Indonesia jadi rebutan perusahaan2 besar. I’m proud of you🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s