Pariaman to Paris via Duisburg

Musée du Louvre – Paris

“I’ve learned that everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you’re climbing it” Maher Zain

Saya sudah tidak ingat lagi kapan terakhir mengatakan bahwa suatu saat saya ingin ke Paris ketika masih di Indonesia. Yang saya ingat adalah ketika saya kursus bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung tahun 2009. Sahabat saya yang juga sekarang mati-matian belajar biar bisa lulus dari Univ Duisburg Essen masih ingat betul perkataan saya dulu di depan kelas Goethe bahwa suatu saat saya ingin menulis buku tentang berkelana di Eropa. Mudah-mudahan nanti kesampaian.

Kata “Paris” pertama adalah singkatan kerennya kota kelahiran saya di tepi Samudra Hindia yaitu “Pariaman Sekitarnya”. Ya, maklumlah karena saya berasal dari kota kecil berpenduduk 70.000 jiwa belum terbayang bahwa suata saat saya akan berada di Paris (Perancis) sebenarnya. Tapi kalau mimpi bolehkan…?. Cuma mimpi yang boleh gratis sekarang kok. Saya berasal dari kota kecil di Pariaman (Sumatera Barat), menghabiskan 20 tahun disana sebelum akhirnya merantau ke Padang, menyelesaikan Sarjana di padang dan kemudian ke Bandung untuk belajar bahasa di Goethe Institute. Kemudian keluyuran ke Eropa akhirnya ibu kota negara Eropa keenam yang saya singgahi adalah Paris. Tiga kota diataslah yang menjadi titik pertemuan perjalan saya dari Pariaman ke Paris via Bandung.

Joe dengan trek kesayangannya di sepanjang daerah Perancis – Le Quesnoy (Perancis)

Saya memang bukan orang yang pintar dalam soal akademik. Kalau saya pintar, di umur saya yang 27 tahun seharusnya saya sudah berada di tahun kedua kuliah PhD atau Doktoral. Kenyataanya, kuliah Master aja masih belum beres..hehehehe. Bukti saya kurang pintar lagi  adalah bersepeda dari Duisburg (Jerman) ke Paris (Perancis) melalui Maastricht (Belanda) – Brussel (Belgia) – Saint Quentin (Perancis) sejauh 530 km selama 6 hari 4 jam. Kenapa tidak naik Thalys (Kereta cepat Perancis) saja dari Duisburg ke Paris?. Duduk selama  5 jam dengan biaya 39 euro  sekali jalan dan selamat sampai di tujuan. Beres kan?. Itulah hitung hitungan pintarnya.  Tidak perlu berhadapan dengan kematian ketika melintasi jalur jalan cepat di Perancis dan ditabrak oleh Taxi di Paris. Menurut nalar logika ibu saya memang begitu. Dan disitulah letak bodohnya laki-laki yang sampai sekarang tidak dimengerti oleh perempuan kali ya. Kalau di iklan Djarum Super bilang  “Pria Punya Selera”. Ya…wajar. Laki-laki normal memang punya selera dan butuh tantangan dalam hidup. Sejak jaman batu laki-laki memang sudah harus berburu kijang di hutan untuk bertahan hidup. Sejak tulah yang namanya tantangan dan kompetisi ada. Oleh karena itu jaman mulai dan bisa berubah dari jaman batu, logam, industri dan teknologi informasi. Sebagian besar penemuan dunia juga diciptakan oleh laki-laki bukan?. Dalam quote dari Anonym “ Only a man can make His Story and History“. Kalau ada perempuan yang tidak setuju tentang quote ini boleh kursus bahasa Inggris lagi ya.

Let’s say No Pain No Gain – Paris

Sejak jaman dahulu memang setiap laki-laki telah dan harus membuat History dalam kehidupannya. Apakah dia pintar, dapat beasiswa, juara kompetisi dunia, menemukan penemuan terbaru atau jadi bintang iklan Djarum Super. Sayangnya semua kriteria yang saya sebutkan diatas tak satupun ada pada saya. Ya sudah, akhirnya His Story dan History saya cuma bersepeda dari Duisburg ke Paris. Cukuplah buat mengisi CV kehidupan nanti kalau ada yang nanya “what is the best moment so far in your life, dude?“. Saya jawab aja ” Riding a bicycle for 6 days 4 hours crossing 4 countries for 530 km from Germany to France” . Jawaban karena tidak ada pilihan yang lain. Kalau anak Engineering memang begitu ya bicaranya harus pakai data dan angka yang valid. hehehe.

Salah satu daerah pertanian di perbatasan Belgia dan Perancis

Kami berangkat bertiga (Saya, Rizki dan Joe) berangkat dari Muelheim ad Ruhr (kota kecil damai tetangganya Duisburg), kami tinggal di kota ini tapi beda rumah. Saya dan Rizki kuliah di jurusan yang sama yaitu Computational Mechanic dan Joe kuliah di Water Management and Technology. Meskipun kami masing masing-masing sudah tinggal minimal 2,5 tahun di Jerman, tapi tak satupun dari kami yang pernah jalan2 di Paris. Aneh kan?..Dan meskipun Paris sangat dekat, tapi tidak ada keinginan saya sama sekali kesana. Alasannya cuma satu. Tak ada moment yang spesial untuk melangkah pertama kali ke Paris. Dulunya cita-citanya mau sama pacar atau bojo (istri dalam bahasa Jawa,red) aja ke Paris.hehehe. Biar menikmati pemandangan kota Paris yang cihuyyy buat jalan sore-sore. Oleh karena itu kami hanya semalam di Paris tanpa jalan-jalan mengelilingi Paris lagi. Biar disimpan buat kedua kalinya nanti kalau ke Paris. hehehe

Joe – Rizki – bayu…We’ve done…Unglaublich…Eiffel Tower – Paris

Ada beberapa hal yang tidak dapat diukur dengan materi setelah sampai di tujuan. Setelah wajah dan tangan gosong terbakar oleh teriknya matahari musim panas eropa, setelah lutut kaki yang sakit karena harus melewati wilayah Belgia dan Perancis yang seperti grafik Sinus dan Cosinus alias tanjakan dan turunan tanpa henti dari Maastricht ke Paris, setelah saya memotong matras untuk dijadikan alas buat pinggul saya yang sakit karena jok sepeda saya yang terlalu  keras, setelah lebih dari 2 hari hanya bermandikan keringat tanpa pernah mandi di bawah shower, setelah mengayuh sepeda seharian yang diawali hanya dengan Indomie dan abon di pagi hari, setelah mendengar suara Piano aneh di tengah hutan belantara Perancis jam 01.00 dini hari, setelah ditabrak Taxi di Paris dan setelah mengalahkan rasa putus asa di tengah perjalanan apakah kami akan menyelesaikan perjalanan ini atau tidak. Itulah bentuk sebuah kepuasan . Menaklukan Paris dengan cara yang berbeda. “For BvA Paris is not only a romatic and beautiful city, but also his story and history to be told to his descent“.

Manneken Pis – Brussel (Belgia)

Ketika berada di tengah hutan pedalaman Perancis, rasa putus asa sempat muncul sambil bercanda.”Bagaimana kalau kita balik ke Jerman pakai ICE aja jek?”. Sebuah pilihan yang sama sekali tak butuh dipilih. Mana ada ICE ditengan hutan begini. Padahal perjalanan baru 200 km masih ada 330 km sisa. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam, kami tak tahu persis berada dimana, tujuan di peta yang diprint atas informasi Google Maps sewaktu di Waterloo (Belgia)  masih ada 4 lembar lagi yang artinya ada sekitar lebih kurang 30 km lagi untuk mencapai tujuan yaitu Camping site di pedesaan Perancis (Le Quesnoy). Satu satunya pilihan cuma mengayuh sepeda lagi sampai di tempat tujuan jam berapapun, sejauh apapun dan dimanapun. Pokoknya harus sampai disana.  Baru saya sepenuhnya menyadari bahwa orang-orang yang biasa jika mengeluarkan seluruh kemampuannya akan menjadi luar biasa dari pada orang luar biasa yang bertindak biasa saja. Padahal malam itu kaki sudah gemetaran karena tidak ada energi yang masuk ke badan. Padahal kami ga cukup bekal dalam perjalanan dari Brussel ke Le Quesnoy (Perancis). Dan Celakanya hari itu adalah hari Minggu. Semua toko tutp dan tidak ada satupun yang buka pada hari itu. Kecuali saya yang makan banyak di rumah teman kami Devay yang sedang ambil PhD di Brussel tempat kami menginap semalam di Brussel. Rizki dan Joe pagi itu makan alakadarnya saja karena lambung mereka yang kecil kali ya..hehehe. Iya, berat mereka berdua  memang dibawah 60 kg dan saya melejit sendirian diatas 73 kg. hahaha.

Akhirnya…sampai juga di tujuan..Menara Eiffel – Paris 2012

Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di Le Quesnoy sekitar jam 01.25 esok harinya setelah 14 jam perjalanan dari Brussel. Saya juga tidak terlalu ingat waktu pastinya karena setelah kami mendirikan tenda di Camping site di Le Quesnoy, kami langsung tertidur pulas tanpa menghiraukan perut yang keroncongan karena belum makan siang dan makan malam. Dan sayangnya kali ini saya harus menghiraukan perut yang keroncongan di tengah malam. Lumayan, hari ini ada sup ayam buat makan malam.hehehehe…Bersambuuung..

00.16 Muelheim ad Ruhr, 01.06.2012

Bayu Van Adam

http://about.me/bayuvanadam

19 thoughts on “Pariaman to Paris via Duisburg

  1. Cool!
    Ya, mungkin sebagian org akan menganggap kalian nekat nyaris gila, tp aku tahu banget rasanya menakhlukkan tantangan dan kepuasan setelah menyelesaikannya. Rasanya luar biasa dan benar, kepuasan itu nggak bisa dibeli dengan materi.
    Congrats, bay. Meski cb bs menikmati tulisan2mu. Tp sangat berharap suatu saat bisa mengikuti jejakmu sampai di sana. Praha. Paris. Wow….

    Btw, ditunggu sambungannya…🙂

    • Iya Cool..lagi musim hujan di Muelheim..
      Iya nyaris kalau jatuh dari jalan di jalur cepat Perancis, nyaris luka2 waktu ditabrak taxi di Paris. Alhamdulillah, masih selamat🙂
      Hihihi..ahhhh..kalau keluarga Bank Indonesia mah, ntar lagi juga nyampe di Eropa..umur 30 juga udah bisa ke Eropa tu kayaknya Wit..
      Sambungganya nyari inspirasi dulu kayaknya…mau ujian ntar lagi..

    • Wah..selamat mas Taufan atas Erasmus Mundus Scholarshipnya. Kayaknya setahun cukup deh di Jerman, di Kaiserlautern juga banyak hal hal gila yang bisa dilakukan nantinya😉. Saya juga belum pernah menginjak tanah Kaiserlautern tuh…:-)

  2. […] Postingan pertama di Blog..mudah2an bisa bermanfaat dan bisa menjadi tempat sharing ilmu, pengalaman..Gambar kota Paris dipilih karena begitu inginnya pergi ke Paris ketika masih SMA dulu..perlahan-lahan Paris semakin menjadi dekat, but the question, with whom should i go there..:-),,,Then two years later, here is my story when travelling to Paris by bicycle from Duisburg (Germany)… […]

  3. Subhanallah… Mudah2an selah ambo bisa kuliah di jerman samo kayak kak bayu.. maraso-an apo yg alah kakak rasoan…. jurusan kedokteran tp..😀 Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s