my Hobby is not playing Football anymore…..

http://kepakgaruda.wordpress.com/

Ya…Tanggal 29 Februari 2012 mungkin menjadi hari paling kelabu dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Bagaimana tidak, skor 10-0 bukanlah sebuah skor yang layak diterima oleh 240 juta rakyak Indonesia. Kekalahan terbesar tim Garuda sepanjang sejarah persepakbolaan Indonesia. Masa, kita disamakan dengan negara kepulauan samudra pasifik semacam, Samoa, Guam atau Fiji yang ditebas habis Australia dengan skor dua digit.  Kalau negara-negara juara dunia seperti Spanyol atau Jerman yang melakukannya saya masih bisa maklum. Tapi ini Bahrain…?. Bahrain itu bukanlah tim besar dunia. Level mereka itu sama dengan kita. Tim Garuda pernah mengalahkan mereka kok di Jakarta tahun 2007 dengan skor 2-1. Cuma 4-5 tahun berselang kok bisa jadi 10-0 skor akhirnya. Unbelieveableee…

Cukup sudah pengharapan good news oleh 240 juta rakyak Indonesia termasuk saya. Mungkin akan selalu diingat bahwa mungkin hanya saya yang pernah memukul meja di Pustaka Universitas Duisburg Essen yang hening ketika mahasiswa lain belajar untuk ujian. Benar..kesabaran sudah mulai habis ketika menonton pertandingan ini via streaming di laptop. Kalaupun pelatih Indonesia Aji Santoso sampai diusir wasit, itu 1000% wajar. Saya sebagai penonton saja sudah demikian frustasi dan emosi, apalagi Aji yang menanggung malu dan beban sebagai pelatih Indonesia. Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Semua kebanggan, prestasi tim garuda rusak gara-gara kekalahan tersebut. Saya masih bisa tertawa dalam tangis bahwa kekalahan ini hanya akan dirayakan setiap 4 tahun sekali, karena tanggal 29 Februari hanya akan muncul sekali dalam empat tahun dalam kalender Masehi.

Iseng-iseng tengah malam menonton siaran TV Indonesia lewat Mivo.tv untuk menghilangkan stress semasa ujian. Akhirnya malah tambah stress setiap nonton FTV atau sinetron yang tayang jam 3.00 dini hari WIB. Stress karena jahatnya tokoh antagonis di siaran tersebut keterlaluan. Belum masuk nalar atau imajinasi saya kalau jahat dan liciknya mereka bisa seperti itu. Ya..akhirnya pindah channel lain untuk liat berita-berita dalam negri..wah, gw malah jadi tambah stress liat isi beritanya negativ semua. Mulai dari pemerkosaan di angkot, korupsi yang semakin menjadi-jadi, sampai kasus-kasus intrik yang tak kunjung selesai. Artis dan aktor sudah masuk ke dunia politik, sementara orang politik bertingkah layaknya aktor dan aktris yang memainkan masing-masing peranan dalam sebuah sinetron. Yudah, jadi aktris dan aktor aja di Indonesia kalau mau kaya, apalagi di dunia politik.

Sehari sebelum pertandingan Indonesia saya ditanyai oleh tetangga saya anak India. Dia baru saja menonton pertandingan World Cup Cricket antara India vs Australia. Seperti biasa India memang sudah sering menjadi juara Criket di pentas dunia. Pertanyaannya simple ” Apa sih olahraga paling favorit di Indonesia?…”. saya jawab ” kami begitu menggilai sepak bola”. Dia balik nanya ” tapi, kok tim sepak bola Indonesia gak pernah muncul menjadi juara di tingkat Asia dan masuk Piala Dunia?’..yudah..I am speechless..ga tau lagi mau jawab apa. Kalau ngeles dan cari-cari alasan saya juga ga bakat.

Sepanjang karir saya main Play Station selama 9 tahun dari kelas 6 SD sampai tahun 3 kuliah bachelor. Jenis kasetnya cuma satu, yaitu main bola, egal apakah Winning Eleven 7, PES atau FIFA. Saya memang hobi sekali sepak bola. Lebih bisa kebangun karena pertandingan Piala Champion dinihari  dibanding bangun dan belajar untuk ujian besok lusa. Setiap orang menanyakan hobi saya baik dalam CV ataupun personal tak lupa saya mencantumkan sepakbola. Mungkin hari ini saatnya mengakhiri bahwa saya harus mengatakan “My Hobby is not playing Football anymore” . Sudah cukup malu mengakui bahwa saya hobi sepakbola, tetapi saya tidak bisa main boal dengan benar. I will not tell anyone again that my hobby is playing football.

Tingkat kesabaran rakyat Indonesia mungkin diatas rata-rata etnis di dunia. Atau boleh saya katakan terlalu sabar. Jika pernah menonton program “Jika aku menjadi” di sebuah saluran TV di Indonesia. Anda akan tahu bahwa mereka tak mengharapkan apa-apa dari pemegang kekuasaan. Bagi mereka bisa makan, anak bisa mendapatkan pendidikan yang  layak. Mereka sudah sangat bersyukur. Bagi saya yang lumayan berkecukupan sebagai student di Jerman, mendengar berita baik tentang Indonesia sudah lebih dari cukup menenangkan hati bahwa keluarga saya baik baik saja di kampung. Saya menyadari sendiri bagaimana teman-teman saya anak Palestina yang berjuang hidup mati untuk mendapatkan sebidang tanah yang nantinya disebut NEGARA oleh dunia. Saya agak sungkan mengatakan bahwa kami Indonesia memiliki 17000 pulau dan cuma 6000 ribu yang dinamai dan ratusan etnis yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan ketika saya bercerita dengan anak Bosnia, Serbia, Makedonia. Saya bersyukur bahwa kami terdiri dari bermacam etnis tetapi jarang sekali terjadi perpecahan. Bandingkan dengan mereka yang terbelah-belah menjadi negara baru karena perbedaan etnis dan agama. Anak Palestina sempat berkelakar bahwa mereka ingin membeli sebuah pulau jika mereka kaya nanti. Saya jawab dengan tertawa..hahahaha..ternyata berita ini sudah sampai ke Jerman🙂..

Tulisan ini tidak memerlukan debat tingat lanjut, karena saya tidak ahli untuk berdebat kusir. Ini hanya curhat untuk mengobati kekesalan yang kalau disimpan bisa bermasalah suatu saat. Tidak bermaksud memojokan profesi di bidang apapun karena mereka lebih expert dari saya yang hanya seorang student. Hanya ingin mengharapkan yang terbaik dari setiap orang yang membawa nama Indonesia di pentas Internasional. Jika banyak berita kebaikan dari Indonesia mungkin saya yang tidak ngeh atau terlalu sibuk dan autis dengan diri sendiri. Maaf…Kelak jika anda lumayan lama menetap di luar Indonesia apalagi di negara maju, nanti akan tahu betapa bangga bercampur malu sebagai bagian dari Indonesia . Saya tidak minta dilahirkan sebagai anak Indonesia, tetapi Ibu, Ayah, Saya dan adik-adik saya hidup dari tanah, udara dan air dan bernafas di Indonesia.

Tak peduli sejauh apapun kamu tersesat, jika tahu arah yang benar, berbalik lah.begitulah kata orang bijak.. Di dunia cuma ada tiga burung yang super power. The Eaglenya Amerika, Der Adlernya Jerman dan Garudanya Indonesia…Tak peduli seberapapun burung terbang tinggi, yang jelas mereka masih ingat sarang yang di buatnya…

Saya  ingin mempersembahkan puisi Taufik Ismail yang saya print dan saya tempel di depan meja belajar saya..

Malu (aku) jadi orang Indonesia.

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

01.03.2012 Muelheim ad Ruhr – Jerman

living between Ruhr and Rhein is so amazing…

Bayu van Adam

2 thoughts on “my Hobby is not playing Football anymore…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s