Family

http://www.londonnfp.com/lnfp/images/family.jpg

Sebagian besar muda-mudi Minangkabau memang genar merantau keluar dari daerah kelahirannya. Apakah karena alasan belajar, pekerjaan atau ikut suami. Contohnya simple sekali, hampir 90% teman satu angkatan kuliah saya sekarang tidak lagi berdomisili di Padang. Tak terkecuali saya yang sudah cukup lama tidak merasakan hembusan angin laut yang setiap hari di dekat rumah. Seakan memberi kedamaian ditengah kepungan temperatur – 5 Celcius malam ini.

Ya, hari ini termasuk winter ketiga yang saya lewati di Jerman. Lumayan, hari ini tidak terlalu dingin seperti hari-hari di minggu yang lalu, tetapi cukup untuk menusuk tulang bagi anak yang besar di tepi pantai Samudra Hindia seperti saya. Tiga hari yang lalu cuaca memang sempat ekstrim. Suhu di Essen anjlok sampai 18 Celcius di bawah Nol (Temperatur -12 C + angin), dan sayangnya belum ada turun salju di Essen di winter kali ini. Winter tanpa salju memang bagai sayur tanpa garam alias hambar. Dan matahari Jerman memang terkadang pembohong. Matahari bersinar cerah seperti di Indonesia, tapi dinginnya bagaikan tinggal di dalam Lemari Es. Itulah sebabnya saya tidak terlalu percaya dengan Matahari di sini.

Hari ini akhirnya ke luar dari tempat persembunyian juga. Berangkat ke Duesseldorf setelah sekian lama semenjak cuaca dingin dan ada beberapa hal urgent yang harus diselesaikan segera mungkin. Ketika asyik ngobrol bersama teman, tiba-tiba ada pertanyaan tentang informasi adik saya yang paling bungsu. Wah, tiba-tiba harus mikir beberapa detik sebelum menjawab. Apakah kelas 3 SMA atau 2 SMA ya? sambil berpikir dalam hati.

Ternyata beberapa efek merantau itu bikin lupa beberapa hal tentang keluarga sendiri. Awal tahun kemaren kebetulan saya pulang ke Indonesia. Setelah 1,5 tahun di Jerman. Tanpa diduga, saya terkejut melihat adik laki-laki yang sudah lebih tinggi dari abangnya, badannya sudah lebih besar dari saya. Kemudian saya perhatikan nenek yang sudah mulai kelihatan sangat tua di umur 70an nya. Dan Ayah dan Ibu yang rambutnya mulai ditumbuhi uban-uban di usia mereka menginjak 50 tahun. Bagaimana semua ini bisa terjadi begitu cepat setelah hanya 1,5 tahun ditinggal?. Atau mungkin karena saya yang tak lagi mencabuti uban-uban Ayah dan Ibu dengan imbalan 5 rupiah setiap uban yang dicabut?. Atau saya yang mungkin kurang makan ikan segar di Jerman sehingga adik saya bisa mendahului saya soal tinggi badan alias saya yang kurang gizi?. Terlalu susah untuk dijawab di malam yang dingin ini. Dan biarlah pertanyaan ini menjadi pertanyaan pribadi saya.

Waktu memang terus berputar tanpa henti. Semua orang akan menua bersama waktu. Menghabiskan waktu dengan keluarga memang sebuah hal yang tak bisa dinilai dengan materi. Layaknya sebagai seorang ciptaanNya yang sempurna. Hidup dimulai ketika kita dilahirkan dan menangis sedangkan orang-orang disekeliling kita begitu gembira, dan ketika kita menemuiNya lagi orang-orang disekeliling kita yang gantian menangis. Begitulah kondisi idealnya.

Tak salah rasanya orang-orang dahulu menciptakan sebuah kosa kata penuh makna tersirat didalamnya. Seperti kata FAMILY, Father And Mother I  Love You. Dan beruntunglah orang-orang yang masih memiliki keluarga yang lengkap dan hidup bahagia bersama. Mungkin Ayah sudah ikut menua bersama waktu, tetapi beliau masih tetap menjadi Richard Gere ibuku, dan mungkin mahkota Ibu telah banyak ditumbuhi uban-uban tetapi Ibu masih tetap wanita paling cantik di rumahku.

Satu kalimat dari seorang ibu yang saya ingat ketika menonton film Merantau ” Kembalilah Nak, kapanpun kau siap”…

 

Muelheim ad Ruhr, Jerman – 10.02.2012

Anakmu yang nakal dan suka keluyuran

Bayu van Adam

8 thoughts on “Family

  1. Hiks..hiks…terharu, bay.
    Saia memang tidak memiliki keluarga selengkap dan sebahagia kamu, tapi saia tahu, dengan segala kekurangan apapun, keluarga tetaplah keluarga. tempat orang-orang yang selalu tulus mencintai kita. “FAMILY, Father And Mother I Love You”

    Nice post, bay. Thanks you to share🙂

  2. Jujur, postingan tentang kehidupan Bang van adam ini lah yang selalu aku tunggu-tunggu. Sangat menarik sekali saat mengetahui kehidupan seorang indonesia di sebuah negara asing, khususnya Jerman. Dari apa yang ia lakukan, pengalaman apa yang ia dapatkan ketika berada di sana, ilmu apa yang ia dapat, bagaimana ia berinteraksi dengan kaum ras asing disana, dan lain sebagainya. Sungguh mengasyikkan sekali membaca setiap postingan blogmu.

    Salam,🙂

  3. Ahhh…tak terasa butir-butir air keluar dari celah mataku teringat kata yang hampir sama dgn kalimat akhir tulisan ini,pada saat itu krn kebodohanku terlalu PD langsung masuk univ dgn tdk dibekali bahasa pengantar yg baik – mandarin, hanya tau tulis nama dan data-data pribadi yg sudah dihafal sebelumnya,sy lulus univ krn ujiannya diselingi bhs Inggris) begitu masuk univ semua bhs pengantar dan sebahagian besar buku dlm bhs Mandarin, HANCUR. baru semester 1 sdh hampir DO dan sy menelpon bunda di tanah air, beliaupun hanya berkata “pulanglah nak kapanpun nanti mama jemput di airport” , tiada kata yg sanggup terucap dibibirku dan langsung saja sy memutuskan pembicaraan telp SLI, sayapun mencoba break 1 semester khusus utk bimbingan bahasa mandarin, Syukur mulai semester berikut berangsur dapat mengejar target yg tertinggal, saat inilah benih rokok dan minuman keras masuk dlm hidupku hampir 25 tahun lamanya, Syukur telah kutinggalkan berkat doa serta dukungan penuh dari istri dan anak2ku tercinta. Kini hanya ada utang yg belum terbayar krn saya sdh terlanjur jadi Yatim Piatu sblm sy benar2 menjadi ORANG yg seutuhnya yaitu BERBAKTI kepada kedua orangtua tercinta, berbahagialah untuk mereka yg masih mempunyai orangtua, cintailah mereka seperti kata FAMILY. Hamburkan harta bisa dicari, hamburkan waktu tidak akan didapat kembali, Salah menulis bisa dihapus jadi durhaka tidak dapat dihapus. Trims mas Van Adam semua artikel anda, seluruh keluargaku sangat enjoy membacanya, Semoga berguna bagi yg membutuhkannya, GBU, Good luck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s