Egaliter ilmu

Sudah hampir delapan tahun berlalu dari yang namanya orientasi di awal masa perkuliahan atau dulu disebut Ospek. Meskipun cuma sebentar, cuma satu setengah bulan, tetapi ingatan itu tetap selalu melekat kuat dalam ingatan. Bersama teman-teman seperjuangan berjuang dalam pahitnya kehidupan awal perkuliahan di Fakultas T. Boleh dikatakan bahwa Orientasi di Fakultas T lumayan keras tetapi tidak merusak dan bersifat merendahkan junior. Kalaupun ada yang merendahkan atau melecehkan itu hanya segelintir dari senior yang tidak mengetahui konsep dari acara tersebut. Akibatnya karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Satu hal yang menjadi ingatan saya sampai sekarang bahwa adanya lagu kebangsaan Fakultas T. Fakultas lain dianggap tidak terlalu prospectus dan jika kuliah di fakultas tersebut seolah masa depannya suram. Tapi setelah waktu terus bergulir malah semuanya saling bersangkutan dan harus memiliki keterikatan satu sama lain. Tidak ada lagi yang namanya fakultas superior yang jika tamat atau lulusan fakultas tersebut langsung menjadi orang.

Setiap ilmu itu mempunyai bagian-bagian tersendiri dalam sisi kehidupan manusia. Engineering melakukan rekayasa agar mempermudah setiap urusan dan bagian kehidupan manusia. Buat apa Engineer menciptakan pesawat jika bukan mempermudah menghubungkan manusia antar benua yang jaraknya ribuan kilometer. Buat apa Dokter perlu meneliti jenis-jenis penyakit dan berusaha mencari solusi pencegahannya jika bukan memperbaiki imun manusia. Buat apa seorang sastrawan jika bukan mempermudah menghubungkan satu sama lain bangsa yang berbeda bahasa dan buadaya. Tujuannnya agar menjadi paham satu sama lain. Buat apa menjadi Matematikawan?..kalau bukan mempermudah penyelesaian masalah untuk kasus teknik komplek dengan menggunakan metode numerik agar nantinya menjadi input dan sumber informasi bagi Engineer di mechanical dan computer.

Di negara yang sudah relatif maju atau memang maju seperti di Jerman. Semuanya mungkin sudah diatur secara spesifik dan saling berkaitan satu sama lain. Lulusan Teknik Mesin Aerospace tidak akan bisa bekerja di sebuah Bank atau di letakan di bidang ilmu gizi begitu juga sebaliknya. Artinya seseorang memang ditempatkan di bidangnya, sesuai dengan keahliannya. Kalaulah semua itu terpenuhi di Indonesia mungkin tidak ada lagi yang namanya proyek jalan terbengkalai, jembatan runtuh atau yang umur bangunan cuma tahan 10 tahun akibat proyek yang bukan ditangani oleh ahlinya.

Saya sudah sering perhatikan bahwa di samping Koelner Dom terdapat sebuah pusat riset dan pusat renovasi gereja. Sebuah gereja yang dibangun selama 630 tahun. Yang bekerja disana tentu saja orang-orang yang menguasai sculpture (seni ukir, patung, pahat.dsb), orang desain, simulasi model dan bidang material. Ya, seorang budayawan dan seniman di Cologne telah mampu mendatangkan minimal 20.000 orang turis setiap harinya dengan cuma bermodalkan Koelner Dom yang dirawat dan dipelihara. Mereka menciptakan  replika untuk mengganti bagian-bagian bangunan yang rusak yang telah berumur 700 tahun.

Saya teringat dengan Candi Borobudur yang megahnya mengalahkan Koelner Dom. Menjadi 7 keajaiban dunia, tetapi tidak mampu berbicara banyak dalam soal wisatawan atau turis asing. Kurangnya bentuk perhatian terhadap warisan budaya, memang salah satu penyebabnya.

Beberapa jurusan di Indonesia ketika Ujian masuk perguruan tinggi telah selesai dilakukan. Masih terdapat kursi yang kosong. Artinya jumlah pelamar dengan jumlah kursi yang tersedia lebih sedikit. Menjawab asal-asalanpun dipastikan lulus di jurusan  tersebut, karena memang tidak ada saingan. Bandingkan dengan beberapa jurusan favorit yang rasio pelamarnya mencapai 1 : 50. Contohnya seperti ini, Jumlah kursi yang ditawarkan di jurusan B hanya 100 kursi sedangkan pelamar mencapai 5000 orang.

Semua bidang ilmu jika disinergikan satu sama lain maka akan memiliki kesatuan yang kuat yang saling mendukung satu sama lain. Sebuah perusahaan teknik tidak akan mencapai maksimal jika tidak di dukung ilmu lain seperti dari ilmu sosial dan ekonomi. Apakah engineer di bidang komputer menguasai ilmu akuntasi, public relation, marketing dll?..Tentu tidak bukan?.

Di Indonesia memang idealis sering kali harus berlawanan dengan keadaan.  Mereka jarang sekali bertemu empat mata, setidaknya berpapasan untuk memperoleh posisi ideal. Makanya jangan heran kalau ada lulusan Teknik  bisa bekerja di Bank. Entah sebagai apa di Bank saya juga tidak tahu.

Akibatnya bidang seharusnya yang diisi oleh anak ekonomi dan sosial diberikan kepada anak teknik. Entah apa alasan sebuah perusahaan, atau cuma karena kuliah di eksak dianggap lebih jago dalam soal hitung-hitunga atau lebih cepat dalam kalkulasi dalam sisi humornya.

Hal ini seperti mata rantai yang saling berhubungan. Akibatnya banyaknya pengangguran terdidik akibat lahan pekerjaannya terlanjur diisi oleh yang lain. Entah siapa yang salah Perusahaan atau Institusi Pendidikan. Atau ini bentuk ketidakpercayaan perusahaan terhadap hasil Institusi Pendidikan?. Perlu analisa yang lebih mendalam dan data yang lebih akurat  dan valid tentunya untuk mengambil sebuah kesimpulan yang nantinya akan merubah orientasi lulusan sebuah Institusi.

“Dalam ilmu termodinamika, Efisiensi ideal memang sangat susah dicapai. Begitupun dengan orang yang memiliki Idealisme susah ditemukan. Kadang Idealisme sering bertabrakan dengan keadaan. Ketika bertabrakan hanya hati nurani yang mampu menjawab”

29.12.2011 – Muelheim ad Ruhr – Germany

Bayu van Adam

4 thoughts on “Egaliter ilmu

  1. analisis yg menarik…
    jadi teringat sebuah kelakar yg dilontarkan oleh seorang tokoh dalam sebuah talk show di televisi, “lulusan IPB itu bisa jadi apa saja kecuali petani, lulusan ITB bisa jadi apa saja kecuali jadi teknisi”
    namanya sebuah sistem ya begitu, saling terkait satu sama lain…
    kalau mau dibilang yang salah hanya sistem pendidikannya juga ga sepenuhnya benar, jika ingin mengangkat telunjuk ke sistem ekonomi yang kurang bisa menyerap tenaga kerja terdidik sesuai bidangnya juga ga sepenuhnya salah…
    *anyway, it is a good remark…tinggal mikirin solusinya😀

  2. Yaa… Memang begitu kenyataannya. Tidak ada yang salah, justru salah adalah orang yang tidak bisa menerima keadaan…. Hehehehe. Tapi usaha untuk tetap idealis harus diapresiasi, karna memang tidak banyak orang sanggup (butuh banyak pengorbanan). Nice shoot Bro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s