Taman bermain dan Musim Gugur di Jerman

Sebuah taman bermain anak di Duisburg Weddau

Ketika saya masih di kelas 3-5 SD di SD 04 Rawang – Pariaman yaitu sekitar tahun 1994-1996. Sekolah tersebut persis berada di depan Stadion Bola Pariaman, Stadion Rawang dan disebelahnya merupakan taman makam pahlawan bagi para pejuang dulunya. Taman makamnya terlihat sangat bersih dan rapi seperti ada yang merawat dan masih peduli tanda menghargai jasa pahlawannya. Ketika ada pelajaran kesenian, biasanya diisi dengan pelajaran menggambar bebas. Terserah mau menggambar apa saja, asal masuk diakal. Maksudnya kita boleh menggambar sesuatu tang real, bukan seperti gambar-gambar khayalan seperti Naruto atau Pokemon pada masa sekarang ini.

Saya pada waktu itu hampir selalu menggambar pemandangan. Gambar saya sangat sederhana sekali, hanya diisi oleh dua buah gunung, satu matahari yang malu-malu menampakan seluruh tubuhnya dengan menyelipkan sebagian dibalik gunung tersebut. Kemudian ada jalan yang berliku sebagai gambaran bahwa saya sering bepergian ke Padang Panjang atau Bukit Tinggi dan langsung ke danau Singkarak ketika mau ke kampung halaman orang tua saya. Di dalam bagian jalan tersebut biasanya saya menggambar sebuah bus, seperti bus kota atau bus anta kota khas Ranah Minang yang biasa ada tulisan kata-kata khas Minang seperti Cipitih (cari duit), Jaso Mande (Jasa ibu) ataupun kata-kata yang dimodifikasi dari kata aslinya seperti Mustibisha (dari kata Mitsubishi). Kenapa bukan mobil pribadi saya gambarnkan diatas jalan raya tersebut?..Pada waktu itu saya belum kepikiran apakah kami bisa membeli mobil pribadi atau belum. Disamping kiri kanan jalan yang berliku seperti di pendakian ke Padang Panjang, saya gambarkan ada rumah tua yang berdiri kokoh dan sawah yang menghijau serta danau yang menjadi hiasannya.

Sepertinya dari dulu saya sudah akrab dengan alam yang bersih, tentram dan sederhana. Hampir setiap kali saya menggambar, saya selalu mendapat nilai paling kecil 8, nilai 9 pun sudah hal biasa. Ya, mata pelajaran kesenian memang hanya perlu imajinasi dan kreatifitas dan berkat imajinasi yang kurang masuk akal akhirnya sampai juga di Duesseldorf 17 tahun kemudian disambut dengan dinginnya winter 2 Celcius Desember 2009.

Apa yang saya impikan terhadap sebuah negeri memang seperti ini. Sebuah negeri yang bersih tanpa sampah yang bertebaran di jalanan, udara yang bersih, adanya taman bermain disetiap sudut rumah dan suatu komplek perumahan kecil. Apa yang membuat saya rindu dengan kampung halaman ternyata saya temui di kota Muelheim ad Ruhr yaitu burung-burung yang bernyanyi riang menyambut pagi hari.

Sebuah danau kecil di Duisburg dengan latar sebuah rumah keluarga

Saya masih ingat tentang bagaimana kejamnya ibu kota kita. Apa yang dikatakan di film Indonesia dulunya “Ateng dan Iskak” tentang kejamnya ibu kota dari ibu tiri memang baru saya rasakan sebagai anak singkong baru pertama kali ke ibu kota di tahun 2008. Kejamnya bukan kepada saya pribadi tetapi kejamnya terhadap alam. Sungai sudah mulai berubabh menjadi warna kopi, dan sampai mulai bertebaran di setiap sudut kota atau sudut rumah. Dan yang paling utama adalah kebiasaan yang sudah mendarah daging bahwa sampah kebanyakan dibuang disungai. Untuk kebiasaan yang terakhir, sampah dibuang disungai adalah sebuah kebiasaan bangsa eropa pada masa abad pertengahann, sekitar tahun 1500an. Artinya kebiasaan orang kita sekarang yang membuang sampah kesungai akan sama dengan kebiasaan eropa ditahun 1500an. Dan parahnya ketika saya ambik kesimpulan singkat, kita tertinggal 500 tahun dari soal pemikiran tempat pembuangan sampah dari negara Eropa.

Saya tidak dapat mengelak bahwa sebuah kota di Jawa Barat dikatakan diberita bahwa pernah suatu kali sampah menumpuk tak terurus yang menyebabkan kota menjadi busuk. Sekarang masayarakat sudah mulai sadar artinya kebersihan, dan perlahan-lahan citra sebuah kota telah menjadi baik dengan kebersihannya. Tetapi belum semua kota yang seperti itu. Umumnya sebuah komplek perumahan yang dibangun secara modern telah memikirkan hal tersebut. Tetapi bagaimana dengan masayarakat yang tinggal bukan di perumahan modern atau tinggak di komplek kecil semisal di Jakarta atau Bandung. Biasanya semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin timbul kesadaran dalam dunia kebersihan. Apalagi mereka yang sudah pernah menginjak negara-negara eropa barat yang bersih dan teratur. Untuk soal kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan, saya sebaiknya berkaca kepada negara Skandinavia (Swedia, Denmark, Norway, Finlandia), Jerman dan negara-negara eropa lainnya.

Sebuah taman bermain anak di depan University of Bonn - Jerman

Mereka benar-benar  mengaplikasikan bagaimana bersahabat dengan alam semestinya. Bagaimana membuat burung bernyanyi tiap paginya. Bagaimana melihat langit biru yang bersih tanpa ada polusi. Bagaimana menghirup udara segar setiap bangun pagi dan bagaimana menikmati kota dengan berjalan di trotoar tanpa pernah ada yang berjualan disana. Bukankan itu yang kita inginkan sebagai seorang makhluk tuhan di bumiNya?.

Saya masih ingat bahwa ditahun 1995 saya adalah seorang pengembala kerbau dan kambing bersama teman-teman lainnya di Pariaman. Di depan rumah kami aspal belum benar-benar rata. Karena rumah saya merupakan daerah yang baru berkembang pada masa itu. Hampir setiap sore bermain kelereng, gambar, petak umpet ataupun permainan tradisional lainnya yang saya tidak tahu bahasa Indonesianya apa. Kadang sorenya berenang dan bermain bola di pantai Samudra Pasifik yang jaraknya cuma 200 meter dari depan rumah. Hanya berpakaian celana pendek tanpa baju tanpa sandal. But, it’s my life when i was child dan hal itu tidak akan bisa tergantikan sampai kapanpun.

menikmati alam dengan sepeda dari Duisburg ke Duesseldorf sejaun 25 km.. We were enjoying in Duisburg

16 tahun kemudian saya juga menjumpai hal tersebut di Essen- Jerman. Walaupun permainannya bukan permainan Indonesia tetapi melihat bagaimana anak-anak mereka bermain di taman lengkap dengan alat permainan mereka. Saya melihat adanya kebahagian yang tidak bisa disembunyikan dari masa anak-anak tersebut. Bermain dengan alam, mengormati lingkungan, membuang sampah pada tempatnya dan membersihkan serta memberekan alat-alat permainan mereka sendiri. Kadang saya sempat berpikir juga untuk punya anak di Jerman nantinya  ;-)..hehehe.

Mungkin langkah pertama adalah memisahkan tipe-tipe sampah dirumah masing-masing dan membuang sampah pada tempatnya. Seperti kata-kata orang bijak kita dahulu, untuk mengubah sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal kecil yaitu diri sendiri. Kelak akan tercipta lingkungan yang bersih dan nyaman. Apalagi bagi kita yang merindukan akan indahnya nyanyian burung di pagi hari. Seperti kata pepatah Minang “Alam takambang manjadi guru” (Alam terbuka menjadi Guru). Alam yang bersih dan terwat tentunya menjadi guru yang baik juga bagi kita. Saya pernah membaca sebuah artikel di internet bahwa alam ini bukan milik kita, kita mulai menua dan mati hanya warisan keindahan dan keelokan  alam lah yang dapat kita wariskan kepada penerus.

14.22 – 22.09.2011 – 45478 M ad Ruhr

Salam dari kedamaian dan kecantikan musim gugur di Muelheim ad Ruhr – Jerman

Bayu van Adam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s