Key of Studentenwohnheim, “Solution based” dan rambut panjang

Kunci sukses di Studentenwohnheim (http://sixminutes.dlugan.com)

Selama saya di Jerman saya sudah dua kali pindah apartemen dan sekarang yang saya tempati adalah apartemen ke tiga saya. Sebenarnya saya termasuk orang yang setia dan komitmen dengan setiap hal. Tapi berhubung keadaan tidak memungkinkan lagi terpaksa saya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Awal pertama datang ke Jerman saya tidak punya kenalan siapa-siapa. Yang saya kenal hanya seorang, itupun karena dia satu almamater dulunya di Univ Andalas dan kami belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya. Saya tidak terlalu banyak bertanya tentang banyak hal, hanya pertanyaan yang penting saja tentang peluang diterima di salah satu Univ di Jerman. Akhirnya berkat korespondensi dan arahan saya diterima di salah satu Univ di Jerman. Setelah semua urusan di Indonesia beres, dengan Emirates saya akhirnya mendarat di Dubai dan dilanjutkan ke Dusseldorf.

Satu hal yang perlu diingat adalah, jika telah diterima di salah satu Universitas di Jerman dan kita ingin kuliah di Universitas tersebut apakah melalui beasiswa atau pribadi. Segera ajukan applikasi untuk tempat tinggal (Studentenwohnheim aka STW) milik Universitas. Caranya download applikasinya di website, lalu isi, kemudian di scan dan dikirim via email ke pihak Univeritas bagian Studentenwerk. Hal ini sangat penting sekali karena ketika nanti kita tiba di Jerman. Kita telah memiliki tempat untuk berteduh dan berlindung (coba bayangin kalau Winter, di Jerman bisa minus 10 Celcius). Kenapa saya menyarankan ke STW Universitas?…Karena selain harganya murah, juga bisa diurus walaupun kita masih di Indonesia. Berbeda dengan jika ingin menyewa rumah privat (privet wohnung). Selain urusannya ribet dan harus diurus langsung ke kantornya alias empat mata juga sedikit ribet. Cara ini saya sarankan karena sangat aman bagi yang pertama kali ke Jerman. Kita tidak perlu repot-repot lagi mengurus ini itunya. Dan selain itu juga biasanya STW telah diberi furniture berupa kasur, tempat tidur, meja belajar, kursi belajar, lemari baju dan rak buku. Kalau kita beli sendiri furnitur di atas. Sehemat-hematnya akan habis sekitar 300 euro (3,6 juta).

Bagi yang berkeluarga juga begitu. Kadang ada Universitas yang menyediakan STW untuk famili kadang juga tidak. Tergantung masing-masing Universitas. Saran saya adalah, jika salah satu dari kita kuliah ke Jerman apakah suami atau istri yang kuliah. Maka sebaiknya yang kuliah lebih dahulu berangkat dan pasangan serat anak menyusul kemudian. Jika di bawa secara serentak takutnya nanti akan mengalami masalah di perumahan. Di Jerman minimal tiap kepala harus memiliki 12 m2. Artinya adalah jika kita sepasang suami istri dengan satu anak. Maka minimal kita harus menyewa rumah dengan luas 36m2. Dalam applikasinya, rumah untuk famili jarang sekali disediakan oleh Universitas. Akhirnya ya, mau tidak mau kita harus menyewa privet wohung, buat yang telah berkeluarga. Setelah pasangan kita sampai di Jerman dan telah settle untuk beberapa minggu sambil mencari rumah untuk famili. Setelah mendapat rumah, maka silahkan pasangan dan anak dibawa ke Jerman. Ingat, privat wohnung hampir selalu disewakan tanpa furniture jadi harus membeli furniture tersendiri. Kalau ingin membeli furniture ada beberapa pusat penjualan furniture yang bisa di kunjungi selain IKEA, BAUHAUS, METRO dll.

Saya dulu sebelum ke Jerman alhamdulillah telah beres semuanya di Indonesia. Tinggal memindahkan barang-barang saja ke STW. Yang jadi masalah dulunya adalah saya sampai di Jerman pas dua hari setelah Natal dan semua Universitas dan kantor-kantor tutup sampai sekitar 10 Januari atau biasanya beroperasi lagi seperti semula hari senin minggu kedua. Selama dalam masa belum mendapatkan STW, ada teman yang berbaik hati yang mengizinkan saya tinggal alias nebeng dikamar dia selama lebih kurang dua minggu.

Studentenwohnheim yang pertama ternyata lebih besar dari dugaan saya. Luasnya 19m2 dan mirip sistem WG (Wohngemeinschaft) alias tinggal bareng-bareng dengan satu dapur, satu kamar mandi dan satu WC atau simplenya seperti rumah. Tetapi memiliki kamar masing-masing dan memiliki satu pintu keluar. Nah, kebetulan saya cuma tinggal dua bulan di STW yang pertama ini. Rekan-rekan satu WG ini adalah adik sepupunya Jet Lee dan Jackie Chan. Mereka juga baru sampai di Jerman dan juga mengikuti kursus bahasa Jerman telrbih dahulu. Parahnya, mereka ga bisa berbahasa inggris dan kelas bahasanya lebih rendah pula dari saya. Akhirnya ya pakai bahasa tubuh atau mikir dulu kalau mau bicara.hehehe.;-). Mereka juga cenderung tertutup dan kalau diajak ngomong cuma satu atau dua kata saja dan parahnya jarang keluar kamar. Padahal kita punya dapur yang bagus dan bersih. Apa salahnya cuy kalau malam-malam ngobrol sambil ngopi sambil nonton acara TV walaupun ga negrti.😉😉.

Untung ada  tetangga di rumah sebelah yang sering mengajak makan bareng atau ngobrol bareng, Gadis Serbia dan Kamerun serta adiknya yang juga teman satu kursus bahasa. Mereka baik sekali dan kadang-kadang juga masak bareng, tentunya dia yang sering masak, sayanya belum bisa memasak apa-apa waktu itu kecuali sup (Indomie Rasa ayam bawang)😉.Diskusi dan ngobrol-ngobrol seperti ini sangat membantu sekali untuk memperlancar bahasa Jerman ataupun bahasa Inggris, tergantung teman atau tetangga sebelah juga sifanya bagaimana.

Setelah dua bulan tinggal di sana, saya akhirnya pindah ke STW yang baru tetapi masih dikota Essen. Alasannya cuma karena lebih dekat ke kampus dan ke tempat kursus bahasa. Disini juga perlu dicermati bahwa terkadang jarak antara Universitas dengan tempat tinggal juga berpengaruh terhadap bagun pagi😉. Saya dahulu tinggal di Essen dan kuliah di Duisburg. Dari Duisburg ke Essen butuh minimal 45 menit, berarti butuh 90 menit dalam perjalanan. Kalau kuliah pagi jam 8.00 apalagi winter memang menjadi beban tersendiri. Bagi yang tinggal di Jakarta memang sudah terbiasa dan sangat berpengalaman dengan macet. Bagi orang yang tidak tahu apa arti macet di Padang dan hanya butuh 15 menit dari rumah ke kampus sewaktu kuliah dulu sedikit menjadi masalah.

Sepuluh bulan tinggal di Essen dengan anak Pakistan, Turki, Rusia dan Uzbekistas sebagai tetangga cukuplah untuk mengenal satu sama lain😉. Di STW yang baru di Essen yang paling asik itu kalau ada pertandingan bola kaki antara anak-anak disatu gedung, yang dihuni hampir 200 student. Tepat di belakang STW itu ada lapangan bola kaki kepunyaan klub, yang boleh dipakai jika sedang tidak dipergunakan. Meskipun tinggi saya 171 cm, termasuk standar Indonesia, kalau dibandingkan dengan rekan-rekan bermain bola kaki  tersebut termasuk kecil dan sering disangka masih baru kuliah bachelor tahun awal😉. Memang ya, anak-anak asia kelihatan lebih muda dari pada umur sebenarnya😉.

Oiya, ketika kita melakukan pindah STW , tetapi masih kepunyaan Univ yang sama, seperti yang saya lakukan, biasanya dikenakan denda 25 euro sebagai biaya administrasi. Kalau kita keluar dari STW maka uang kaution (uang jaminan) akan dikembalikan. Tetapi akan dicek dulu oleh Hausmeister (pengelola dan teknisi gedung) apakah ada yang rusak atau perlu di cat dan di bersihkan. Sebelum pindah, biasanya kita akan diminta membersihkan kamar tersebut sebelum ditinggalkan.

Setelah bosan harus bolak balik kuliah dan menghabiskan waktu dua jam tiap hari dari Essen ke Duisburg akhirnya saya pindah ke kota Muelheim ad Ruhr. STW yang baru ini jarak ke kampus cuma 5 menit dengan Strassen bahn (trem) dan cuma dua halte dari halte STW saya😉. Apa keuntungannya tinggal dekat dengan kampus?. Jika ingin masak dan makan siang dirumah, ingin tidur dan istrirahat siang, kuliah pagi waktu winter, ke pustaka sesering mungkin bukanlah masalah besar.

Kebetulan teman saya yang sekarang di STW adalah adiknya Shah Rukh Khan yang juga merupakan rekan kerja di Essen dulu. Dari sinilah akhirnya kemampuan bahasa Inggris bertambah dan adanya teman berdiskusi. Walaupun jurusan berbeda tetapi ada beberapa mata kuliah yang sama. Bayangkan adik-adik Shah Rukh Khan yang ngomongnya cepat dan saya dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan dituntut harus segera mengerti apa yang kita bicarakan;-)😉. Lama-kelamaan hal itu menjadi sebuah hal yang biasa dan saya bisa mengerti dengan cepat. Memang begitulah hukum alamnya segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang dan latihan akan menjadi kebiasaan dan mudah.

Masih ingat ketika masih di SMU bahwa ternyata sangat sulit mempelajari bahasa Inggris apalagi bahasa Jerman. Semuanya terasa asing dan tidak menarik. Memahami kalimat pasif dan aktif  Inggris saja sangat sulit. Lebih dari 8 tahun kemudian baru berhasil perlahan-lahan mengerti isi sebuah jurnal bahasa Inggris, mengerti sebuah film bahasa Inggris tanpa text, mengerti sebuah film dokumenter. Artinya hal-hal yang dulu sangat sulit dan bahkan asing perlahan akan menjadi sebuah hal yang biasa saja atau bukan masalah besar, tetapi memang membutuhkan waktu, tekad dan kesabaran. Memang mempelajari bahasa asing tidak lah mudah, apa yang dirasa sekarang bahwa bahasa Jerman itu susah, kelak beberapa tahun mendatang akan sama dirasakan dengan bahasa Inggris saat ini, bahwa bahasa Jerman itu memang tidak sesulit yang dikira. Cuma butuh latihan, dan kesabaran. Sepertinya tidak perlu butuh 8 tahun lagi untuk bisa berbahasa Jerman yang baik dan benar karena telah tahu tujuannya untuk apa.

Satu hal yang menarik dalam komunikasi antara saya dan tetangga saat ini adalah saya lebih sering menjadi pendengar yang baik lebih dahulu dan mendengar cerita dia dari A-Z sebelum saya bercerita dengan masalah saya. Ini saya pelajari dari buku Dale Carnegie bahwa “pembicara yang baik adalah pendengar yang baik“, artinya mendengarkan orang lain berbicara sangat penting kalau kita juga ingin didengar berbicara. Kebanyakan orang terlalu banyak bicara tanpa pernah mendengar pembicaraan orang lain, itulah sebabnya mengapa cuma ada kursus Public Speaking bukan kursus Public Hearing. Tuhan memberi sepasang telinga dan cuma satu mulut, bahwa kita harus lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara. Pada dasarnya semua orang ingin didengar, walaupun mereka masih anak-anak. Mendengar orang lain berbicara artinya menghargai orang tersebut. Terkadang memang sulit sekali menahan untuk tidak memotong pembicaraan orang lain.

Satu hal yang menarik untuk urusan pertemanan antar negara ini adalah tunjukan antusiasme terhadap budaya mereka. Saya jujur mengatakan bahwa saya dan ayah saya suka sekali film India. Saya telah menonton film ini dari jama SD tahun 1992 mulai dari Mahabarata ataupun film-film India gaya lama yang akhirnya polisi muncul diakhir film dan menangkap penjahat. Setelah itu saya membahas bahwa India sekarang filmnya sudah jauh luar biasa berubah bahkan menyaingi film Hollywood. Coba lihat di film -film terbaru yang shootingnya berlatarkan belahan dunia dan negara lain dan kuliahnya pun di Universitas terkenal dunia seperti Harvard, Oxford, Cambridge, Munchen yang menunjukan sisi positif. Film India telah jauh merubah pikiran bangsa mereka untuk menuntut ilmu dengan bermimpi kuliah di Univeritas ternama dunia. Anda bisa lihat bahwa mereka perlahan-lahan mulai menguasai isi Universitas di Jerman, bahkan mungkin dimana-mana yang saya tidak tahu Universitas apa.

Mungkin banyak teman-teman yang mengalami masalah dengan tetangga mereka yang berbeda negara, jangankan berbeda negara, sesama negarapun kadang jarang memiliki kecocokan dalam bertetangga. Intinya begini, kami tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil baik di dapur ataupun di kamar mandi yang dipakai bersama. Saya mencoba melakukan apa yang saya bisa dan begitu juga sebaliknya. Ketika saya memasak dan dapurnya kotor dan saya lupa membersihkan karena buru-buru atau hal lain yang mendesak, saya tidak pernah merasa di tegur atau merasa digurui olehnya dan begitupun sebaliknya. Semua dilakukan dengan ikhlas tanpa peduli siapa yang telah melakukannya. Semua orang cenderung mencari solusi bukan memperbesar kesalahan siapapun pada dasarnya.  Menggurui atau diperintah merupakan hal yang paling tidak disukai hampir setiap orang. Saya pernah beberapa kali bertemu dengan orang yang jauh lebih berpengalaman dan lebih besar secara kekuasaan. Setelah saya perhatikan bahwa tak jarang diantara mereka yang dikatakan sebagai pimpinan cenderung mencari kesalahan atau menyudutkan rekan kerja mereka. Misalnya seperti ini : mengapa kerjaannya seperti ini?..mengapa kok jadi begini hasilnya..?..

Contoh kalimat diatas cenderung sebagai Problem based yang mencari kesalahan-kesalahan seseorang. Sedangkan dalam suasana Solution based pemimpin seharusnya menanyakan pertanyaan yang lebih spesifik seperti : Di bagian mana yang anda tidak pahami?..Bagaimana ya, cara memecahkan masalah ini?..bagaimana membuat hasil teoritis sesuai dengan praktik, kesalahannya dimana ya?…Pertanyaan diatas sepertinya lebih berorientasi kemasa depan dan mengajak kerja sama untuk membahas masalah tersebut bersama-sama alias Solution based. Saya  bekerja kamu juga bekerja.

Mungkin karena itu juga setiap ada masakan baru yang dimasak oleh tetangga, saya kadang-kadang mendapat jatah unlimited yang artinya bisa nambah kalau kurang😉. Bahkan yang tak habis pikir saya juga dikasih tiket kereta  dari Aachen (Jerman)- Brussel (Belgie) pulang pergi olehnya secara cuma-cuma dan parahnya tiket ini berlaku sampai Juli 2012, bahkan untuk dua orang  pula😉..ketika saya tanya dia “nah ini tiket untuk dua orang, siapa yang mau gw ajak boss?....”yah, udah gw kasih tiket, nyari yang satu rambut panjang kok susah amat?”…..”hehehe….Oke..siip..sipp..I understand what do you mean bro..;-)”.

00.36 Muelheim ad Ruhr…11.09.2011

dari kedamaian Lembah sungai Ruhr..

Bayu van Adam

7 thoughts on “Key of Studentenwohnheim, “Solution based” dan rambut panjang

  1. Sebenernya Kak Bayu pergi ke Jerman dengan modal bahasa yang udah fasih apa belum? Soalnya saya takut kalo saya pergi kesana saya cuman bisa bicara bahasa jerman aja. Kalo ada yang ngajak ngomong bahasa inggris gimana? Kan keki gak terlalu bisa bahasa inggris nih hehehe

    • Saya ga perlu ditanya lagi, yang jelas saya masih bisa bertahan di Jerman selama ini.
      Yang tahu kemampuan bahasa itu kamu sendiri, begitupun pilihan kuliah ke Jerman atau tidak.
      Kalau ga lancar..wajar, itu bukan bahasa ibu kita…
      tak perlu takut terhadap sesuatu yang belum akan terjadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s