Indonesia di peta dunia.

Satu hal yang membuat bulu kuduk saya berdiri ketika mendengarkan lagu adalah ketika mendengarkan Anthem Indonesia Raya berkumandang di berbagai event yang dimenangkan oleh anak-anak Indonesia. Kadang saya ingin berada satu dari 80.000 penonton ketika Tim Nasional Indonesia bertanding dengan tim manapun di Gelora Bung Karno Jakarta. Itulah bentuk sebuah indikasi kecilbagi saya apakah masih cinta dan optimis terhadap Indonesia kedepannya. Hal ini juga yang sering menjadi perdebatan berbagai lapisan anak bangsa terhadap Indonesia. Pada dasarnya otak kita di kuasai oleh dua kubu yaitu Mr.Triumph dan Mr.Defeat. Mr.Triumph memproduksi pikiran positif yang menginformasikan kenapa kita bisa, kenapa kita memiliki kualifikasi dan kenapa kita akan bergerak maju. Sebaliknya Mr.Defeat memproduksi pikiran negatif, kenapa kita tidak bisa, kenapa kita terlalu lemah dan kenapa kita tidak memiliki harapan. Dua hal ini sering saya lihat di berbagai media masa, berbagai komentar muncul di sebuah berita ada yang positif dan ada yang negatif. Perdebatan ini seakan tidak ada akhir. Satu hal yang harus di ingat bahwa tidak ada enemy di antara kita, yang ada hanya opponent. Opponnet (lawan bicara) bersifat saling mencerdaskan sedangkan enemy bersifat saling menjatuhkan dan meniadakan. Jadi dalam sebuah opponent adanya sikap  yang saling mencerdaskan dalam wujud kedewasaan.

Berfikir untuk berkontribusi terhadap Indonesia, sebagai anak-anak muda yang ingin memberikan kontribusi terhadap Indonesia, memang kita harus memiliki visi yang jelas tentang peradaban Indonesia dimasa depan. Bagaimana seharusnya Indonesia beberapa tahun setelah ini. Jadi dalam konsep ini, ada mimpi yang di tawarkan oleh anak muda, memang anak-anak muda hanya seseorang yang memiliki mimpi yang akan mereka tawarkan. Mereka tidak mempunyai masa lalu seperti ini yang sudah kaum tua lakukan, kaum tua bisa bilang bahwa ini yang sudah mereka berikan dan lakukan, yang bisa di lihat dari track record mereka. Dahulu pada saat Republik Indonesia ini didirikan oleh kaum muda, mereka juga hanya menawarkan mimpi. Pada saat itu pemimpin muda bangsa ini dihadapkan pada rakyat miskin, rakyat yang tak cerdas, Infrastruktur tidak ada dan negara yang tak punya dana.  Lalu apa yang menyebabkan semua orang tergerak menyepakati bersama-sama apa yang di ucapkan pemimpin, bahwa Kemerdekaan adalah jalan emas menuju kesejahteraan mencapai masayarakat adil dan makmur?.Mereka mempunyai mimpi di dalamnya. Pada saat negeri ini merdeka, jumlah anak bangsa yang mengecap pendidikan universitas hanya bisa dihitung puluhan. Pada saat itu Indonesia berada dalam kemiskinan, buta huruf 95% dan Indonesia adalah Nol pada saat itu. Tiga puluh tahun kemudian karena mimpi kaum muda jugalah akhirnya Indonesia memiliki masyarakat kelas menengah untuk pertama kalinya. Butuh 30 tahun untuk mencapai hal tersebut di akhir era 70an.

Munculnya generasi muda yang baru  adalah generasi muda yang telah selesai dengan diri mereka. Sudah tidak berbicara tentang dirinya, tetapi berbicara tentang masa depan Indonesia. Where will Indonesia be in the next 10 years in world map?. Tugas berat generasi muda juga telah menunggu, sebelum 2045 seluruh janji-janji kemerdekaan telah harus lunas di bayar semestinya. Saat ini kita berada di tahun 2011, dalam 34 tahun kita mempunyai waktu untuk memastikan janji kita terlunasi. Janji pada saat kemerdekaan itu adalah mengantarkan Indonesia kepada kemerdekaan, kecerdasan dan Indonesia akan memiliki peran dalam dunia global.

Kalau ada sebuah usaha kolektif anak-anak muda yang  memiliki visi yang jelas dan di dukung oleh good time frame dan kita ambil pada saat 100 tahun Indonesia merdeka yaitu pada tahun 2045 sebagai waktu patokan finishnya melunasi janji tersebut, dan kalau pada saat itu kita telah melunasi apa yang menjadi janji generasi muda pada awal kemerdekaan dulunya. Jika ini terjadi, mungkin rakyat Indonesia akan merasakan betapa bangganya mereka menjadi Rakyat Indonesia. Jelas ini merupakan tantangan dan sebuah tugas yang berat. Pada saat negri ini didirikan, kita hanya memiliki 70 juta penduduk, setelah 66 tahun kemudian bangsa ini memiliki hampir 240 juta pasang mata. Tiga setengah kali lebih banyak dari awalnya. Artinya, janji dahulu yang di hadapkan kepada 70 juta rakyat Indonesia, sekarang harus di realisasikan kepada 240 juta rakyat Indonesia. Hal ini membutuhkan bacaan yang serius atas situasi masa depan.

Keberhasilan bukan hanya semata pada regenerasi usia, tetapi  keberhasilan juga kepada regenerasi kaum muda yang mampu membaca Indonesia dalam perspektif jangka panjang. Dan generasi muda kita sudah berada di dalam range itu, dan hanya tinggal masayarakat merasakan kehadiran mereka dan bersama sama merealisasikan apa yang menjadi janji dahulunya.

Generasi tua dan generasi muda harus melihat bahwa Indonesia akan exist untuk beberapa tahun jauh kedepan dan kita membutuhkan usaha yang serius untuk menata bangsa ini ditiap-tiap fase. Generasi tua telah menyelasaikan tugas mereka di tahun 60an,70an, 80an. Sekarang mereka tidak bisa meneruskan tugas mereka, karena mereka memiliki umur yang terbatas, sedangkan negeri ini tidak memiliki batas umur seperti manusia. Oleh karena itu regenerasi harus di jalankan apabila generasi tua melihat bahwa perlunya existensi bangsa Indonesia jangka panjang.

Beberapa pandangan yang keliru bahwa banyak generasi tua berkompetisi dengan generasi muda dan berarti generasi tua menganggap bahwa negeri ini hanya seumuran mereka, padahal tidak. Memang Indonesia baru berumur 66 tahun secara ofisial tetapi Indonesia harus exist untuk 66 tahun atau satu abad kedepan oleh karena itu regenerasi adalah sebuah pilihan yang absolut. Yang menjadi isu saat ini pada dasarnya adalah bukan ada atau tidaknya tetapi yang menjadi persoalan apakah tersedianya kesempatan untuk generasi muda menunjukan peran mereka dan mendorong kemajuan bagi bangsa ini. Beberapa kasus generasi muda On Top telah banyak dilihat saat ini, mulai dari munculnya sosok dekan muda di FE UI, pengusaha muda Sandiaga Uno dan banyak lainnya.

Anak-anak muda Indonesia saat ini memiliki kemampuan Intelektual dan kreatifitas yang tidak kalah dengan pendiri Republik negeri ini pada saat itu. Banyak diantara mereka memiliki International exposure  yang luar bisa yang melihat Indonesia dalam perspektif global, memiliki kompetensi sebagai agen exchange Indonesia yang mendorong kemajuan Indonesia di tingkat global. Betapa banyak anak Indonesia yang bisa berbahasa asing dan menjadi main player global dan bukan pemain lokal yang hanya berteriak jago kandang. Hal ini menunjukan bahwa masa depan bangsa ini sedikit demi sedikit sudah harus di titipkan kepada generasi-generasi muda yang lebih fresh. Kalau ini berjalan, Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang di segani bukan menyegani dan kita akan menjadi leader dalam dunia global bukan folowwer. Tulisan ini disadur  dari video Anies Baswedan, Ph.D.

Diragahayu Indonesia ke 66, semoga bangsa ini semakin dirahmati oleh Allah SWT untuk berperan di dunia Global..Kita terlalu besar untuk dianggap kecil di peta dunia.

Salah satu anak bangsa..

17.08.2011 Muelheim ad Ruhr – Germany

Bayu van Adam

4 thoughts on “Indonesia di peta dunia.

  1. Sampai saat ini saya masih bangga menjagi warga indonesia dan berharap seterusnya demikian. Tapi juga berharap suatu saat juga bisa menjadi seseorang yang dibanggakan Indonesia. Amiin…

    Merdeka!

    Good post, Bay. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s