Life without taking risk is not fun

Hari ini secara tidak sengaja membaca postingan teman di Facebook. Sebuah artikel dari pak Rheinald Kasali yang berjudul Pasport yang di publish di Jawa Pos. Sejenak kembali kepada lamunan 2 tahun yang lalu ketika mengurus pasport di kantor Imigrasi Padang. Akhirnya mendapatkan pasport, tiket jalan-jalan keliling dunia. Sekitar awal tahun 2000 malah tidak terpikir sama sekali bahwa akhirnya saya mendapatkan Stempel Imigrasi Jerman di Pasport di akhir tahun 2009. Sebagai orang yang pertama kali  keluar negeri sampai umur 24 tahun, melihat indah dan eksotisnya Eropa ada perasaan bahagia tak terkira. Bahkan ke Jakarta pun baru tahun kemaren setelah menyelesaikan studi di Padang. Walaupun banyak kesempatan ke Jakarta dulu-dulunya tetapi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan di Jakarta. Saya hanya pernah menginjak Jakarta 3 bulan, tidak betah, pindah ke Padang lagi kemudian pergi ke Bandung  selama 6 bulan dan akhirnya langsung hijrah ke Pesantren Uni Duisburg Essen di Jerman. Praktis saya hanya 9 bulan berada di luar Sumatera Barat.

Kenapa tiba-tiba anak singkong yang kotanya terletak di tepi Samudra Pasifik terlintas mau kepikiran ke Jerman?. Anak yang dahulunya pernah menjadi tukang parkir sewaktu Porda di Pariaman. Anak yang teman-temannya tidak seberuntung dirinya, yang hanya bisa melaut dan berbengkel dan menjadi supir angkot. Anak yang tidak pernah menghadiri acara Sekolah di SMA karena asyik menjadi kasir di kafenya dan hobi berbengkel ria dengan oli dan mesin Vespa di depan rumahnya. Semua karena ingin melihat dunia yang luas ciptaanNya, mendapatkan pengalaman hidup sebagai seorang laki-laki dalam cerita budaya Minangkabau, menuntut ilmu seperti Hatta dan Habibie, bermimpi menjelajahi lima benua. Tak seorangpun yang saya kenal ketika menginjakan kaki di Eropa ini, hanya teman-teman yang berbaik hati yang sudah seperti saudara yang mengajari saya segala ini itu di Jerman.

Pertengahan 2005 saya pernah ikut lomba pidato bahasa Inggris di Kampus dan hasilnya menjadi juru kunci. Ternyata saya juga yang akhirnya pertama kali mengecap pendidikan ala negara Eropa dibanding teman-teman seangkatan. Meskipun tidak terlalu fasih berbahasa Inggris apalagi bahasa Jerman, toh akhirnya bisa di terima juga di 3 Universitas Eropa ( Univ Manchester, Univ Glamorgan Wales, Univ Duisburg Essen). Kalau boleh jujur sebenarnya bahasa Inggris saya tidak lebih hebat dari anak SMP pada waktu mengirim applikasi ke Univ Eropa. Kenapa kok bisa lulus?..ya, Jawabannya belajar dengan rajin dan tekun. Toefl saya awalnya 410 dalam 3 bulan bisa menjadi 570. Yang penting lulus dulu di salah satu Universitas di Eropa, dapat Visa Uni Eropa dan everything would be OK. Kemampuan berbahasa Inggris yang fasih dan lancar kalau belum pernah merasakan atmosfer negara selain ASEAN juga tidak ada artinya, hanya sebagai sebuah impian yang terkubur dan layu sebelum berkembang. Saya membenarkan apa yang dikatakan Pak Rheinald Kasali bahwa Jepang, Korea dan Cina yang hurufnya saja susah dibaca sekarang berani menguasai dunia sedikit demi sedikit. Beberapa teman  saya di sini dalam pronounciation pun mereka kadang terdengar seperti kumur-kumur, tapi yang jelas orang lain mengerti. Coba perhatikan website website Univ terkemuka di Amerika, maka akan menemukan banyak sekali mahasiswa Korea, Cina, India sebagai doktoran disana. Idealnya, tiap 5 Doktoran Cina, 4 Doktoran India, 1 Doktoran Rusia harus menempatkan juga 1 orang Doktoran Indonesia, berdasarkan rasio jumlah penduduk.

Kebanyakan tipikal orang tua adalah menginginkan anaknya segera mendapat pekerjaan yang dekat dengan beliau. Saya sempat disuruh mendaftar menjadi Pegawai Negeri Kota di kota Pariaman dan akhirnya mengikuti ujiannya. Dari seluruh ruangan yang dipakai untuk  ujian, saya yang pertama kali selesai dan keluar ruangan dan hasilnya memang tidak lulus. Kenapa..?…saya takut seumur hidup berada di kota kelahiran saya.Mungkin saya tidak pernah mengecap polusinya Jakarta, ayunya dara-dara Bandung dan pengalaman tidur di luar stasiun di Jerman disaat Winter 6 Celcius dibawah nol. Pengalaman itu tak mungkin saya dapat tanpa kabur dari kampung halaman sesegera mungkin. Saya cuma ingin melihat bahwa Berlin itu memang pernah terbagi dua setelah perang dunia ke 2, Belanda itu memang mendapatkan hampir semuannya dari bumi Indonesia ataupun Belgia yang tidak memiliki pemerintahan resmi seperti yang saya baca dan dan lihat dari televisi dahulunya atau Paris yang memang indah di lewati berdua.

Ketika di SMA pun saya belum boleh keluar malam lama-lama, ketika pukul 23 harus sudah di rumah dan mengendarai kendaraan pun tidak diperbolehkan jauh-jauh kalau belum punya SIM. Bukan karena takut di tangkap Polisi , tetapi karena belum memiliki peganggan yang kuat jika terjadi sesuatu di perjalanan kata orang tua. Ketika setelah dewasa berumur 18 tahun di bebaskan sesuka hati terserah mau kemana saja. Kalau perlu menjelajahi Islandia dan tidak pernah dilarang sama orang tua. Malahan ketika pulang kemaren setelah baru setahun merantau di Jerman ditanyain. Kok pulang?…Ngapain pulang?..ga Usah pulang..Ketika anak masih kecil memang perlu bantuan roda bantu dalam mengendarai sepeda, tetapi begitu dia bisa menyeimbangkan diri bersepada bebaskanlah mereka mengayuh sepeda sekencang mungkin dan kemana saja dia mau. Begitu pendapat saya terhadap didikan orang tua saya.

Tanpa keberanian dan perhitungan tidak mungkin saya menginjakan kaki di tanah Eropa ini. Saya bukan penerima beasiswa karena tidak cukup pintar dan layak mendapatkannya ketika itu, bukan juga seorang anak yang kaya dari orang tuanya, bukan pembelajar yang cepat di bidang bahasa. Yang saya yakini adalah anak-anak Indonesia itu adalah anak-anak pejuang. Saya banyak menemukan teman-teman Indonesia, India, Pakistan, Cina berjuang menyambung hidup disini. Kenapa mereka rela berjuang di sini padahal mereka bisa hidup enak dan layak jika mereka bekerja atau kuliah di negara mereka masing-masing tanpa perlu belajar bahasa baru.  Life without taking risk is not fun. Mereka mencari tantangan dalam dunia global. Berada di tempat baru yang belum dikenal akan belajar banyak hal, pengalaman hidup, sifat mandiri, manajemen waktu, budaya positif dan banyak sekali yang saya dapat setelah merantau disini. Kelak mereka yang merasakan sebagai minoritas dan pernah merasakan di bawah yang nantinya akan memimpin dengan hati Lead by heart.

Sudah lama saya memperhatikan kenapa anak-anak PT di pulau Jawa bisa dengan gampang pergi mengikuti seminar dan publikasi ilmiah ke luar negeri. Sedangkan di PT saya dahulu mendapat informasi pun tidak, jangankan ada yang menyarankan kamu harus ini itu setelah selesai kuliah S1. Kurang tanggapnya terhadap Informasi dan tak ada motivator yang menyebabkan saya membuang -buang waktu di masa perkuliahan dahulu. Ketika saya mengikuti seminar di Berlin tahun 2010 kemaren. Saya terkejut bahwa mereka yang presentasi kebanyakan yang masih kuliah S1 di Indonesia. Bagaimana mereka bisa begitu?.Mereka rajin, pintar mencari informasi dan bekerja keras dan smart. Saya pikir anak-anak di Almamater saya Teknik Universitas Andalas juga bisa melakukan begitu kalau mereka memiliki kemauan dan kerja keras. Informasi dalam jaman sekarang bukan masalah lagi. Tinggal ketik di Google, apapun dapat dicari. Mindset bagi yang pintar-pintar dan fasih berbahasa Inggris sudah harus di perbaiki. Kenapa tidak mencoba mengajukan Summer School ke Universitas mana saja di dunia, bikin tulisan ilmiah biar bisa presentasi di belahan dunia ketika masih kuliah, membuka cakrawala tentang dunia, membuktikan bahwa kita juga bisa unggul dari si bule. Yang penting lulus dulu kalau masalah dana nanti ada jalan keluarnya kalau kita memang pintar. Bekerja ikhlas dulu maka rezeki yang akan menghampiri.

Saya memimpikan bahwa setiap generasi di keluarga harus lebih tinggi dari pada generasi sebelumnya. Kakek saya adalah seorang penjahit tetapi beliau mampu mendidik ayah saya sampai beliau selesai tingkat Master, saya pun harus lebih tinggi dan lebih sukses dari ayah seharusnya. Kalau ayah dan ibu guru SD, maka minimal anaknya adalah guru SMP ringkas ceritanya. Kita tidak dilarang untuk bermimpi setinggi tingginya, karena dengan mimpi kita tahu berada dimana 5 tahun dan 10 tahun mendatang. Saya menuliskan 100 mimpi-mimpi saya ditahun 2008. Perlahan satu persatu mulai saya coret karena sudah dikabulkan olehNya. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus di selesaikan walaupun sebenarnya tidak akan habis manusia bermimpi. Bermimpi, berusaha, berdoa dan belajar dengan Ikhlas, perlahan-lahan tanpa disadari semuanya akan dicoret satu persatu. Pendidikan dan pengalaman hidup lah yang akan merubah cara pandang berpikir seseorang.

Salam dari kehangatan Lembah Sungai Ruhr..

Muelheim ad Ruhr, 11.08.2011

Bayu van Adam

15 thoughts on “Life without taking risk is not fun

  1. wah ternyata blogger juga hehehe… mas mas, gantungan kuncinyaa bagus oi (OOT banget hehehe)..selamat ya mas, ternyata orang sumatera pun tak kalah dgn orang jawa. bisa ke eropa gt lho🙂

  2. sangat menginspirasi…,
    salam dari adiak uda yang sedang mengikuti jejak uda di JTM-FT UNAND..,
    smoga sukses slalu da…,🙂

  3. Inspiring banget….:)
    semoga bisa mendorong lebih banyak pemuda Indonesia untuk berani bermimpi dan berani mewujudkannya….

  4. sepertinya pertanyaan saya kemarin sdh ckp bnyk terjawab dsni semoga doa saya dikabulkan olehNya untuk sama2 belajar disana…trus berkarya!

  5. Inspiring bgt uda..! Pejuang Sejati! Saya juga menulis mimpi2 saya dlm sebuah buku. Semoga secepatnya satu2 bisa dicoret seperti uda. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s