A Professor of Happiness

Pagi ini saat sholat subuh sudah berlalu hampir satu jam dan mata masih belum juga sampai ke peraduan. Saya dulu memang tidak hobby membaca, hobbynya cuma satu, yaitu bermain Play Station. Seiring waktu berlalu Play Station mulai di tinggalkan, tetapi bukan beralih kepada X-Box atau game yang lain. Ternyata bermain game ada juga manfaat tetapi lebih banyak mudaratnya. Mudaratnya tidak perlu saya jelaskan, kalau di urut secara rinci cukup banyak. Cukup membuat saya merasakan IP di bawah standar DO beberapa kali. Saya merasakan bahwa tidak selalu setiap Game berorientasi negatif, semua tergantung dari mana kita mengambil sudut pandang. Bermain game Play Station seperti Winning Eleven ternyata perlahan-lahan telah melatih kesabaran dan emosi di dalam jiwa. Sekarang saya bayangkan bahwa saya tidak pernah menang selama permainan dua jam, hasil paling maksimal yaitu seri. Dalam permainan memang selalu ada yang menang dan yang kalah seperti kata pepatah. Tetapi lain kasusnya jika kita selalu kalah. Berarti kita harus memperbaiki kualitas permainan kita dan menambah ilmu serta trik-trik yang dapat di gunakan untuk mengalahkan lawan. Begitulah cara sukses untuk mencapai kebahagian dalam bermain Play Station.

Dalam bermain Play Station kita berperan sebagai pelatih dan pemain sekaligus. Jadi kita harus bisa memikirkan beberapa langkah kedepan, mengatur pemain dan strategi yang di gunakan. Dan yang paling mendasar dalam bermain Play Station adalah sola mental, kesabaran dan emosi pikiran. Jika mental sudah jatuh duluan, maka sehebat apapun strategi dan seberapa hebatpun sebuah Team semisal Barcelona, maka hasil akhirnya acuma satu yaitu kalah. Modal utama dalam bermain Game Winning Eleven adalah adalah “belive you can succeed and you will“. Jika dari awal saya yakin bahwa saya berhasil akan menang, maka setidaknya peluang menang saya sudah semakin lebar dengan kepercayaan diri. Begitulah cara Succeed dalam bermain Winning Eleven. Ketika saya membaca buku “The Magic of Thinking Big” karangan David J Schwartz  akhirnya saya menemukan definisi Succeed di dalam kehidupan. Saya tidak ingin menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia karena mungkin akan sedikit merusak makna kata-kata tersebut.

“Success means many wonderful positive things. Success means personal property : a fine home, vacations, travel, new things, financial security, giving your children maximum advantages. Success means winning admiration, leadership, being looked up to by people in your business and social life. Success means freedom : freedom from worries, fears, frustration and failure. Success means self respect, continually finding more real happiness and satisfaction from life, being able to do more for those who depend on you. Success means WINNING”.

Beberapa orang sangat berbeda sekali pencapai kesuksesannya. Memang rambut sama hitam, tetapi impiannya berbeda beda. Tetapi tujuannya cuma satu Success – Achievement adalah the Goal of Life. Semua orang sebenarnya tidak ada yang gagal. Semua orang memiliki kesuksesan dan keberhasilan masing-masing. Semua yang berasal dari Yang Maha Kuasa adalah sebuah kesempurnaan. Yang ada hanyalah orang yang berhasil mempertahankan kesalahananya tanpa mengubah cara mereka untuk menjadi lebih baik. Begitu juga untuk mencapai kebahagiaan, kebahagiaan hanya dapat di capai kalau kita tahu arti kebahagiaan itu sendiri dan berubah menjadi lebih baik agar kita layak sebagai seseorang untuk kebahagiaan yang kita impikan.

Dihalaman awal buku yang saya katakan di atas terdapat petikan percakapan seorang ayah dengan anak lelakinya.

Our six years old son David felt mighty big when he was graduated form Kindergarten. I asked him what he plans to be when he finishes growing up. Then David looked at me intently for a moment and then answered, “Dad, i want to be a Professor”.

“A Professor?…A Professor what?” I asked.

“Well, Dad.” he replied, “I think I want to be a Professor of Happiness.”

A Professor of Happiness?..That’s a pretty  wonderful ambition, don’t you think?.

Percakapan diatas adalah percakapan David J Schwartz dengan anaknya David Jr. David Jr telah mengetahui the Goal of  Life nya ketika ia baru lulus Kindergarten (Taman kanak-kanak). Cita-cita semasa anak-anak memang luar biasa, tak ada batasannya. Saya dulu bercita-cita menjadi Kosmonot (bahasa Rusia Astronot)  ketika masih di Sekolah Dasar. Perlahan-lahan cita-cita tersebut mulai berganti tetapi tidak dengan tujuan akhirnya. Kalau nantipun tidak berhasil menjadi Professor di bidang pendidikan setidaknya berusaha mencapai Professor of Happiness di keluarga. Riset dan penelitiannya cuma beberapa saja, memasak sarapan pagi untuk anak-anak, mengantar mereka ke sekolah, menemani ibu anak-anak belanja dan ke salon kayaknya..hahaha..

05.11 Muelheim ad Ruhr 08.07.2011

siap2 untuk tidur dulu….

Bayu van Adam


2 thoughts on “A Professor of Happiness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s