Richard Gere Ibuku

Dimata ibuku beliau mungkin saja seperti Richard Gere yang tetap tampan, gagah dan berwibawa di usia setengah abadnya. Beliau adalah seorang guru Kewirausahaan dan tidak merokok oleh karena itu sering ketika kami berjalan berdua beliau sering dikira paman saya oleh orang yang baru kenal keluarga kami. Memang beliau kelihatan sepuluh tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Beliau tidak banyak memiliki uban, mungkin saja ini pengaruh dari rasa humor dan selalu mensyukuri apa yang ada atau mungkin saja karena jasa saya ketika saya masih di Sekolah Dasar bahkan sampai kuliah pun saya di paksa mencabut uban beliau dengan batu kapur dari sungai yang kira-kira berdiameter 5 mm. Entahlah, yang jelas waktu itu saya menerima upah mulai dari Rp 3 setiap uban yang saya cabut dari akar kepala beliau sampai meningkat menjadi Rp 5 karena krisis moneter di sekitar tahun 1997 dan memasuki milennium baru di tahun 2000. Kadang penghasilan ini begitu menjanjikan, bisa saja uang ini lebih besar dari pada belanja sekolah saya sewaktu memasuki Sekolah Menengah Pertama dan yang pasti ini adalah pekerjaan yang saling menguntungkan satu sama lain. Saya mendapatkan gaji dan beliau kelihatan lebih muda, memang pekerjaan ini tidak biasa dilakukan oleh seorang anak laki-laki, tapi apa daya di keluarga kami ibu tetap selalu yang tercantik, sayang saya tidak berhasil mendapatkan saudara perempuan sampai sekarang yang nantinya bisa mewarisi kecantikan Ibu.

Sewaktu saya masih duduk di kelas 1 SMP di Pariaman dan kira-kira berumur 12 tahun. Hal paling pagi yang saya lakukan setelah selesai sholat shubuh adalah membuka pintu Toko kue kecil kami di dalam lingkungan SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) walaupun saya belom mandi ataupun menggosok gigi. Saya harus datang sepagi mungkin untuk membuka pintu toko, mengepel ruangan, membersihkan meja-meja dan mengatur rak-rak tempat kue supaya pedagang kue yang mau menaruh kue mereka di toko saya bisa masuk segera tanpa khawatir harus menunggu lama. Pekerjaan ini berlangsung hampir setiap hari sampai saya harus melanjutkan pendidikan di Universitas di Padang. Kadang sesekali ayah yang melaksanakan tugas saya ini jika saya merasa malas sekali.

Setelah selesai sekolah saya juga harus mengambil absen untuk duduk di toko kue sampai kira-kira jam 15.00 atau jam 16.00 sore. Biasanya pekerjaan mengepel lantai saya lakukan sore supaya kerja besok paginya kerja jadi lebih ringan  dan tidak terlalu tergesa-gesa bangunnya😉. Makanya jarang sekali saya menghadiri acara-acara apapun sewaktu di SMA karena saya juga harus duduk di toko dan ang menjadi teman saya hanya sebuah tape kecil dan dua buah kaset Tape milik Mamak (Paman) saya yaitu Scorpion dan MLTR dan tak jarang beberapa anak SMEA yang sering menggoda saya yang memang aslinya pemalu:-). Memang kaset ini terlalu tinggi untuk ukuran anak SMP pada masa itu dan begitupun anak SMEA terhadap anak SMP.

Toko kue kami ini memang tidak selalu ada yang menunggui, kadang ayah mengajar di kelas dan saya pun hanya bisa hadir setelah selesai pulang sekolah, jadi biasanya ayah meninggalkan kembalian uang logam di dalam kotak, dan bagi siapa saja yang berbelanja tinggal mengambil sendiri uang kembaliannya berapa. Transaksi dilakukan sendiri oleh pembeli. Memang kadang cara ini sedikit aneh pada tahun setelah krisis moneter itu. Bisa saja para pembeli berbohong dan kita menjadi rugi, tapi itulah Ayah, beliau percaya bahwa rezeki telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kalau rezeki kita maka akan datang dengan sendirinya, atau anggap saja itu sebuah sedekah bagi yang belum mampu menbayar makanan.

Memasuki tahun 2000 saya sudah sekolah di SMA dan saya juga masih harus menunggui toko ini sampai jam 16.00 sore. Setelah semuanya beres baru saya bisa langsung pulang dan bermain basket bersama teman-teman. Di toko kue ini juga saya sering merasa cemas setelah menerima hampir 10 surat cinta yang datang kepada saya. Saya baru menginjak 16 tahun dan saya juga ditagih untuk membalas surat cinta dari entah siapa yang saya tidak tahu, karena begitu banyaknya siswi-siswi SMEA pada waktu itu. Memang pada masa itu 97 % dari jumlah total pelajar SMEA adalah siswi. Bayangkan saja anda harus menebak dari 10 dari 1000 orang yang melakukan kontak mata dengan saya pada waktu itu.

Pernah sekali pada tahun 1999 Ayah pergi penataran pelatihan guru di Bandung selama satu bulan dan saya ditinggal sendirian mengurusi toko itu, saya masih 14 tahun pada waktu itu. Pagi sekali sebelum berangkat sekolah saya membersihkan ruangan dan segala macamnya, kemudian yang menunggui toko saya untuk sementara ketika saya sedang sekolah adalah Etek (adik perempuan Ayah) saya yang pada waktu itu dia juga kuliah di Padang. Kemudian saya harus mencatat pembukuan berapa jumlah kue yang masuk dan keluar, berapa sisanya pada waktu sore dan membayar jumlah kue yang habis terjual kepada pembuat kue pada sore harinya. Cara perdagangan pada waktu itu adalah kami mendapat persen dari jumalh kue yang terjual. Misalkan : Harga satu buah kue tahun 1998 adalah Rp 150, setiap kue yang laku terjual kami akan mendapat Rp 25 dari setiap kue. Begitulah perhitungannya, kecil memang tapi Ayah mampu menyekolahkan saya sampai ke Jerman😉. Sebulan saya ditugasi mengurus toko ini, Alhamdulillah semuanya berjalan lancar pada waktu itu. Kalau di hitung umur pada waktu itu, mungkin saja saya anak paling kaya di antara teman seangkatan saya selama satu bulan😉.

Dalam masa antara lulus SMP dan melanjutkan ke SMA saya mempunya waktu libur hampir 3 bulan setelah Ujian Akhir SMP. Kebetulan Ayah dan Ibu baru saja mengakuisisi rumah tetangga kami yang dijual kepada kami, letaknya persis disebelah rumah kami. Rumah tersebut cukup tua dan harus diperbaiki sebagus mungkin supaya nantinya bisa dijadikan rumah kos-kosan kata Ayah. Ayah dan Ibu mengajarkan saya tentang cara berinvestasi masa depan pada waktu itu dan saya baru menyadarinya beberapa tahun kemudian. Rumah kos-kosan mungkin sebagai sumber penghasilan sekunder  yang tidak membuat stress ataupun usaha yang keras, begitulah singkatnya kalau dikatakan.

Renovasi rumah tentunya membutuhkan seorang tukang ahli dan seorang pembantu. Tukang telah didapatkan , dan yang membantu tukang adalah seorang buruh. Dan tentunya saya yang harus turun tanggan, saya tidak melakukan apapun selama tiga bulan ini. Pekerjaan utama buruh bangunan seperti saya pada waktu itu adalah : pPagi sebelum tukang bangunan mulai kerja jam 8.00 saya sudah harus menyiapkan pasir, semen dan mengaduknya dengan air. Kemudian merendam batu bata dengan air supaya semen merekat sempurna di bata tersebut. Begitulah seterusnya selam kurang lebih 1,5 bulan sampai rumah baru saya selesai di perbaiki. Hasil dari pekerjaan buruh ini adalah badan yang atletis menurut saya pada waktu itu. Urat2 kerja mulai menyumbul keluar dari pergelangan tangan saya. Setelah selesai diperbaiki makan langkah berikutnya adalah mengecat dinding, konsen jendela, pintu dan hapir seluruh bagian yang harus di lapisi cat saya lakukan. Memang ilmu ikhlas sangat dibutuhkan disini, dan dari sini juga saya mengenal ilmu bangunan dan yang terpenting berapa campuran semen dan pasir yang harus diaduk untuk beberapa bagian tertentu.

Setelah rumah baru kami selesai di perbaiki. Saya juga memiliki projek yang juga besar bersama Ayah yaitu membangun sebuah toko berukuran 5 x 3 meter. Kami melakukannya berdua mulai dari A-Z, mulai dari pondasi, Jendela, Pintu, memasang Seng, memamasang lantai sampai mengecat dinding dan pintu-pintu. Kata Ayah, kalau jadi lelaki harus bisa menguasai semua ilmu praktis kehidupan, dan dari situ  juga saya belajar banyak hal mengenai filosofi bahwa semua itu mungkin saja bisa dilakukan kalau kita berani mencoba. Ayah dan saya tidak memiliki ilmu apapun tentang bangunan atau pertukangan. Semua berawal dari mencoba-coba dan ternyata berhasil.

Ketika sebuah lampu rusak, pompa air rusak ataupun WC tersumbat, tak lain adalah tugas saya bersama Ayah. Ayah berharap anaknya bisa melakukan apa saja dirumah untuk hal-hal kecil seperti itu. Ketika saya tinggal di Apartemen di Essen tahun lalu, kebetulan keran air dan limbah pembuangan air kotor kami rusak, saya lihat tidak ada inisiatif dari teman-teman negara lain yang berusaha memperbaikinya. Kemudian saya lihat dan perhatikan apa-apa saja yang harus dibutuhkan dan diperbaiki, ternyata setelah di cek, sangat gampang diperbaiki. Begitulah dari pada saya menunggu Hausmeister (Penjaga Apartemen di Jerman) dulu yang entah kapan datangnya, mending diperbaiki sendiri. Dalam bidang kelistrikan juga seperti itu, ketika setrikaan saya rusak, saya juga yang harus memperbaikinya sendiri. Ilmu-ilmu praktis itu juga akhirnya yang membawa manfaat sampai saya memasuki Universitas di Padang, dan segala permasalahan dirumah kos saya siap memperbaikinya termasuk kalau WC tersumbat🙂. Kadang tak jarang Almh ibu kos sering memberi saya makan siang, terutama anak-anak beliau yang begitu baik terhadap saya. Kalau bisa mungkin saya mau diangkat sebagai menantu kata salah seorang dari mereka untuk anaknya🙂.

Tahun 2005 saya telah berada di semester tiga perkuliahan dan saya juga masih belum memiliki Handphone seperti teman-teman sebaya saya. Sebenarnya saya tidak masalah tidak  memiliki handphone seperti teman-teman kebanyakan, tapi kemudian hari ini menjadi masalah ketika ada seorang gadis yang ingin meminta no Handphone saya sewaktu saya berlebaran di Silungkang (kota Sawahlunto ) di kampung Ayah. Baru beberapa bulan kemudian saya mendapat Handphone second hand yang dibeli dari teman, mudah-mudahan dengan adanya handphone ini saya tidak akan kehilangan gadis lagi jika ada lagi yang menanyakan nomor handphone saya😉.

Sekitar tahun 2003 ibu mendapat kecelakan, beliau terjatuh di depan teras akibat air hujan yang tergenang di teras rumah kami. Fatalnya tempurung lutut beliau retak dan membutuhkan waktu yang sangat alam untuk sembuh. Sampai sekarangpun beliau masih tidak bisa berjalan secepat dulu lagi. Hampir  tahun saya ditugasi meyetrika semua baju yang ada dirumah. Kalau boleh ditotalkan dalam jam kerja akan membutuhkan 2,5 jam untuk menyetrika semuanya. Pekerjaan ini berlangsung setiap minggu, beginilah nasib hidup kalau tidak memiliki adik perempuan ;-(. Ternyata menyetrika baju mulai harus disiasati biar pekerjaan ini cepat dan rapi, apalagi baju perempuan yang umumnya gampang-gampang susah di setrika dan butuh trik-trik khusus pada bagian-bagian tertentu, mungkin seperti itu juga cara untuk mendapatkan wanita😉.

Saya telah duduk di tahun tiga perkuliahan dan Ayah berencana membeli sepeda motor baru disamping sebuah mobil Panther hitam andalan kami. Sebagai gantinya Vespa merah maroon tahun 1984 ayah berikan kepadaku dan ayah mengendarai Sepeda motor Thunder 125 CC terbaru. Sebagai seorang yang muda tentu saja saya tidak mau dikasih Vespa tua yang sudah penyok. Setelah di beri nasehat oleh ibu akhirnya saya pun mengambil Vespa tersebut. Ibu adalah seorang yang memberi ketentraman jiwa buat anaknya, dan begitulah definisi Ibu secara sederhana. Akhirnya saya mengalah, saya mengendarai Vespa tersebut ke kampus dan kemana saja. Di semester berikutnya saya meraih IP  3,4 pada semester itu, sudah lama saya menantikan hal ini karena sebelumnya saya cuma sanggup 2,5 dan beberapa semester sempat dibawah 2.00. Dengan IP 3,4 ini saya pun mengajukan beasiswa, dan  beberapa bulan kemudian sayapun mendapat beasiswa sebesar RP 3 juta untuk setahun. Dan beruntungnya saya, waktu itu melihat lagi sebuah Vespa berwarna biru langit yang masih kelihatan gagah dan elegannya.  Sejak saat itu saya mulai mencintai Vespa, jikalau saya dikasih Thunder oleh Ayah pada waktu itu, mungkin saya tidak akah mencintai Vespa seperti sekarang. Kadang anak tidak mengerti bahwa apa yang diberikan oleh orang tua adalah yang terbaik bagi mereka. Saya mendapat Vespa jelek, saya pun harus rajin belajar supaya bisa dapat beasiswa dan membeli Vespa baru. Tujuan say cuma itu pada waktu itu, tak lebih.

Kami telah memiliki mobil sejak ibu tidak bisa berjalan sempurna lagi. Dan sejak saat itu sampai sekarang saya hanya bisa dihitung jari dalam mengendarai mobil. Memang saya tidak tertarik untuk mengandarai mobil karena saya tahu itu adalah mobil ayah dan saya terlalu takut untuk merusaknya jika sesuatu terjadi kecelakan. Dan pula saya tidak tahu buat apa saya memakai mobil tersebut, karena saya telah memiliki Vespa hasil beasiswa. Saya tahu bahwa ayah telah menabung cukup lama untuk mendapatkan mobil itu, biarlah nanti saya juga mengandarai mobil hasil jerih payah saya sendiri.

Ayah pernah berkata, “Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya” dan ayah juga berkata

“Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”.

Tulisan ini didedikasikan kepada ayahku.

Thanks Dad we ever built a small shop in front of our Huose..a small shop that made me bigger than before..

Muelheim ad Ruhr..01.24- 6th June 2011..

Bayu van Adam

7 thoughts on “Richard Gere Ibuku

  1. mantap, kisahnya bang, fit jadi ingat waktu di kelas pak Asdon pernah bilang gini “anak-anak yang berhasil itu adalah anak-anak guru, yaitu guru SD” bukan berarti anak-anak dari orangtua selain guru SD gak berhasil, atw sebaliknya. Tapi waktu itu seneng banget dengernya dan jadi termotivasi lagi untuk belajar. soalnya ibuku guru SD.. hehehe…

  2. […] bahagia bersama. Mungkin Ayah sudah ikut menua bersama waktu, tetapi beliau masih tetap menjadi Richard Gere ibuku, dan mungkin mahkota Ibu telah banyak ditumbuhi uban-uban tetapi Ibu masih tetap wanita paling […]

  3. huahaha…jadi pernah dikirimi surat cinta sama anak SMEA bay? wah, saia baru tahu tuh. haha…saia pernah sekilas dengar lagu2 yg kamu putar di sudut ruang kopsis yg paling sering lagunya scorpio. disisi lainnya saya juga sedang berusa menahan kantuk “berdagang” alat2 tulis punya koperasi sekolah. beruntung, saya punya music penghibur.
    Ingat terakhir kali ketemu Bapak di Bukittinggi. Wew, dia masih bersemangat seperti dulu. Figur guru teladan and bapak yang baik.🙂
    oh iya, baru sadar klo mukanya memang mirip Richard Gere and anaknya mirip David Villa. *LoLZ*

    • yaa..itu kan cerita lama😉..Alhamdulillah sekarang beliau masih sehat kok meski ubannya ga ada lagi yang nyabutin..hehhehe
      Makasi ya Wit…jiaaaa…ada2 aja neh..Dapid Pilla kali ya?..:-) kata orang Sunda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s