Rambu penunjuk jalan.

Am Kaiserkai ( salah satu petunjuk jalan di Hamburg)Saya menginjakan kaki di Jakarta untuk pertama kalinya pada umur 23 tahun (tidak terlalu telat memang untuk anak desa Kampung Baru, kota Pariaman), enam belas bulan kemudian saya menginjakan kaki di kota pelabuhan Hamburg – Jerman. Hasil yang saya alami berbeda 180 derajat, saya tersesat di ibu kota negeri saya sendiri dan saya akhirnya menikmati jalan-jalan di kota pusat perdagangan ekspor impor Jerman itu. Memang ibu kota kadang lebih kejam dari pada Ibu tiri (pikir saya waktu itu) , saya tersesat di negara yang bahasanya saya 100 persen mengerti, tapi tidak di negara yang bahkan saya hanya sedikit lebih tau dari kata “Ich liebe dich”. Ironis memang, tapi saya mengalaminya. Penyebabnya cuma satu. Tidak adanya rambu penunjuk jalan atau papan yang menuliskan nama jalan ini kesini, nama jalan ini kesana dsb alias Informasi penunjuk jalan tidak jelas banget. Lha…gimana mau pergi ke suatu tempat jika nama jalannya saja tidak ada, memang Jakarta kota kecil apa?…penduduknya saja sudah lebih dari 9,5 Juta jiwa, kalau jam kerja sekitar jam 6.00 – 20.00 itu Jakarta di huni lebih kurang sekitar 25 juta jiwa, 16 juta jiwa lagi penduduk yang tinggalnya di pinggiran Jakarta, misal Depok, Tanggerang, Bekasi dll. Bagaimana tidak macet luas Jakarta cuma 740,3 km2, bagi saja dengan 25 juta tadi, bisa di dapat kepadatan penduduk pada jam kerja berapa. Whatt..?..25 juta jiwa..jangan di bandingkan dengan kota tinggal saya sekarang atau tahun lalu, kota besar Jerman seperti Essen cuma memiliki 570.000 penduduk dan sekarang saya tinggal di Muelheim an der Ruhr, kota kecil ditepi sungai Ruhr, penduduknya cuma 167.000 jiwa (Des 2009) dan luas 91 km2. Cuma mau mengasih info saja bahwa kepadatan penduduk Jakarta adalah 12.952 jiwa /km2 pada jam tidur (jam 20.00-06.00) dan pada jam kerja 33.783 jiwa/km2. Pantas  saja di Muelheim dan sekitar rumah saya tidak banyak orang yang lalu-lalang plus keributan, yang ada hanya pada sore hari anak-anak bermain bersama orang tuanya sambil bersepeda atau duduk-duduk di taman, jalannya gede dan penduduknya ga banyak.

Informasi petunjuk nama jalan memang sangat penting begitu juga dengan nomor rumah, hampir 99,8 % semua rumah di Jerman memiliki alamat dan nomor yang jelas, begitu juga nomor kamar jika kita hanya tinggal di sebuah apartemen kecil. Ketika saya pulang ke Pariaman, kota kelahiran saya 3 bulan yang lalu, alhamdulillah sudah ada beberapa ruas jalan di Pariaman mulai dari yang besar sampai yang kecil yang dikasih rambu petunjuk jalan, walaupun untuk penomoran rumah masih belom teratur. Saya tidak heran bahwa di Jerman perdagangan online misal melalui E-Bay, Amazone ataupun toko2 online yang lain menjadi hal yang lumrah. Karena ketika kita memiliki alamat yang jelas dan nomor rumah yang jelas, ketika di ketik di Google pun, posisi kita bakalan bisa terlihat dengan jelas. Sekarang bayangkan jika seorang petugas POS yang mengantar paket kelamat yang di lokasi tersebut tidak ada rambu-rambu penunjuk jalan dan penomoran rumah. Hasilnya petugas pos butuh tambahan waktu untuk bertanya-tanya kepada tetangga sekitar tentang dimana alamat ini, saya pernah ditanyakan oleh petugas POS beberapa tahun yang lalu mengenai posisi rumah yang mau diantar paket olehnya. Untung kita tinggal di Indonesia yang bisa di jadikan tempat bertanya, bagaimana kalau dikota kecil lagi di Jerman yang penduduknya jarang sekali atau jarang orang yang lalu lalang ketika musim dingin?..Tidak bakalan ketemu tuh alamat, di cari di Google pun tidak masuk radar Googel. Selain membuang waktu dan tenaga petugas Pos, juga mengurangi efisiensi kerja, sibuk mencari satu alamat yang tidak jelas.

Makanya PT.Pos Indonesia sekarang seperti angin-anginan, karena pengiriman paket dan surat sekarang tidak terlalu lagi bersahabat. Saya ambil contoh ebay Jerman dan kantor Pos jerman (Deutsche Post). Dua perusahaan yang berperan penting dalam perdagangan saya dengan ebay. Saya pernah membeli Iphone melalu ebay.dan biaya pengirimannya 4,9 euro perpaket, 3-5 hari sampai di tujuan. Dengan alamat yang jelas, transaksi yang jelas, semuanya aman. Bayangkan transaksi ebay sehari berapa ribu transaksi, trus kalau mengirim surat standar dan kartu pos juga begitu , cuma dikenakan perangko 0,5 ke seluruh wilayah Jerman, kalau ke luar negri minimall biayanya 1 euro. Disini banyak sekali surat menyurat yang harus dikirimkan melalui Pos. Dengan adanya alamat yang jelas, maka jalur distribusi barang juga bisa dikelompokan menurut area yang terdekat. Jalur distribusi barang pun bisa di tentukan dengan jelas, dan dimulai dari mana. Saya yakin jika suatu saat di Indonesia semua jalan yang telah di aspal memiliki rambu penunjuk jalan dan penomoran rumah yang pasti, PT.Pos Indonesia akan lebih bergairah lagi  dengan semakin maraknya sistem jual beli online di Indonesia pada saat ini. Penunjuk jalan tidak harus bagus, yang jelas kelihatan dengan jelas nama jalannya apa, tidak perlu neko-neko ditambahkan aksesoris atau lambang2 kedaerahan segala, dan lebih baiknya seragam atau ada standar tertentu, jadi seluruh Indonesia dari barat- timur semua penunjuk jalannya sama persis. Di Jerman penunjuk jalan hanya terdiri dari warna biru dan putih, Tulisannya Putih dan backgroundnya biru, ga ada tambahan-tambahan yang lain, semua sama dimana-mana, di desa kecil atau di kota besar macam Berlin sekalipun (contoh gambar diatas adalah salah satu petunjuk jalan di kota Hamburg).

Saya juga mengalami masalah ketika mencari sebuah alamat sewaktu mengunjungi seorang psikolog di Tangerang dulu, sewaktu ada tes psikologi untuk applikasi pekerjaan. Saya sudah mendapat alamat yang jelas, tetapi jalannya yang mana saya tidak tahu. Akhirnya saya telat sekitar 17 menit sampai di tujuan, dan ujian pun telah dimulai, itulah efek dari ketidak jelasan informasi. Membuang waktu, menjadi bingung dan akhirnya kehilangan konsentrasi. Sudah selayaknya jalan-jalan besar di beberapa kota diperbaiki tanda penunjuk jalan supaya orang baru merantau seperti saya tidak akan tersesat di tengah kemegahan ibu kota khususnya Jakarta.

Pengalaman bertualang saya dimusim dingin 2010, saya berangkat dari Essen ke  Hamburg yang jauhnya sekitar 390km arah utara Essen, berarti terletak di utara Jerman, memakan waktu 7 jam perjalanan dengan kereta, 3 kali transit kereta, di Hamm,Osnabrueck, Bremen dan akhirnya sampai di Hamburg,  alhmdulillah saya tidak nyasar walaupun baru pertama kali ke Jerman. Sebagai turis tentunya saya merasa nyaman dengan keadaan seperti itu, mungkin begitu juga ketika turis luar berkunjung ke Hamburg dan kota2 lainnya di Jerman. Walaupun saya orang Indonesia, kesasar di wilayah Indonesia, kadang saya merasa geli sekarang, saya yakin turis2 lainnya ketika mereka pertama kali sampai di Jakarta, pasti juga kesasar seperti saya, mungkin lebih parah lagi.

Ketika saya dan teman saya mengunjungi beberapa kota di hampir sebagian wilayah Jerman dengan menggunakan mobil box, karena harus membawa beberapa barang yang mau dikirimkan ke Indonesia melalui kontainer. Kita menempuh jarak 2600 km kurang dari 48 jam dan bahkan harus menjemput barang sampai kepedesaan di wilayah Nuerenberg dekat kota Muenchen dan ke Chemnitz, kota kecil di Jerman timur, semuanya  berjalan dengan lancar dengan bantuan GPS, tinggal ketik alamat, nomor rumah,maka GPS akan menuntun kita ke tujuan dengan pasti. Perjalanan sejauh 2600 km dilalui tanpa ada masalah tersesat, sebagai bayangan, jarak Padang – Jakarta = 1100 km. Dengan alamat yang pasti waktu tidak terbuang karna sibuk nyari2 alamat dan musti tanya sana sini, jelas sekali kelihatan bahwa kita orang baru disini, makanya di Jakarta kalau celingak-celinguk ga jelas, bisa kena tipu…hehehe. Kalau penunjuk jalannya jelas, kita ga perlu tanya lagi, ibaratnya udah pintar sendiri, kalau ga tau, tanya Google.Pepatah ” Malu bertanya sesat di jalan” tidak berlaku di Jerman, tinggal di Google aja, semuanya beres. Dan ternyata benar bahwa untuk menilai maju atau tidaknya suatu bangsa lihat saja pertama kali infrastruktru jalannya bagaimana😉

16.25 Muelheim ad Ruhr. 23.06.2011

Bayu van Adam

tepian lembah sungai Ruhr yang damai sejahtera..Ich liebe diese Stadt..

One thought on “Rambu penunjuk jalan.

  1. setuja tuh,,,aku aja yang dari pelosok tulungagung, menuju goethe institute surabaya nyasar 7 kali,,sampek pusing..
    baru turun dari kreta mau ke tempat khursus berhubung ndak tau jalan ya aku naek taxi,,eh kena tipu mana uang pas2an kena tipu juga…dan kenyataannya goethe dekat dengan stasiun surabaya kota jalan kaki cuman 20 menit…..huft…
    jadi makin semangat khursus biar cepet2 lulus dan berangkat deh…amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s