Antara Dokter dan Dokter Mesin

Pemuda  ini belum lah genap berusia 18 tahun sewaktu menyelesaikan sekolah menengah atas di sebuah kota kecil di tepi samudra  Hindia dipertengahan tahun 2003 dan euforia masa SMA tersebut masih membekas jelas dalam dirinya pada saat itu. Seperti cita-cita orang tua terhadap anaknya, memang orang tuanya memiliki cita-cita yang hampir sama dengan orang tua Indonesia kebanyakan yang peduli dengan nasib anaknya yaitu menjadi seorang Dokter. Itulah sebabnya mengapa masuk Fakultas kedokteran sangat susah sekali menurut pemuda ini. Hal ini tak lain bahwa kerabat yang masih terbilang keluarga dekat di kampung pemuda itu di tepi Gunung Tandikek berprofesi sebagai  seorang dokter dan dosen di sebuah Universitas negeri terkemuka di Padang. Kalau diurut silsilahnya menurut adat Minangkabau beliau adalah seorang kakek (Inyiak dalam bahasa Minang) bagi si pemuda itu. Beliau sangat  di hormati dan di hargai di kampungnya karena kebaikan, dedikasinya, ketulusannya membantu terhadap orang sekitar. Mungkin itulah dasar orang tua pemuda ini menyarankan anaknya menjadi seorang dokter supaya kelak sang anak juga bisa seperti itu terhadap orang sekitarnya. Memang orang tua sebenarnya tau apa yang terbaik bagi anaknya, walaupun sang anak kadang melaksanakan berbeda dengan apa yang disarankan orang tuanya termasuk pemuda ini. Yang ada di genggaman pemuda yang belum tumbuh kumis ini hanyalah sebuah perubahan status baru menjadi mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Padang, yang terletak diatas bukit dan bertetanggan dengan pabrik semen tertua di Indonesia yaitu Semen Padang. Ya, benar…pemuda ini telah menyingkirkan lebih dari seribu kandidat yang mungkin memiliki cita-cita dan harapan yang lebih besar dari pada si pemuda ini untuk dapat melanjutkan sekolah untuk menjadi Engineer di salah satu Universitas negeri terbaik diluar pulau Jawa ini.

Memang harapan tidaklah selalu sesuai dengan kenyataan, mimpi tinggal mimpi but, life must go on kenang pemuda ini. Si pemuda tidak berhasil lulus pada pilihan pertama untuk menuntut ilmu di kedokteran pada SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru) di tahun kelulusan tersebut. Ketika itu si pemuda belum sempat mendaftar ulang ke Universitas barunya, dan masih dihadapkan dengan kebingungan karena orang tua pemuda tersebut berniat memasukan si pemuda tetap ke bidang kesehatan yaitu menjadi seorang Dokter walaupun melalui kelas internasional yang bayarannya selangit seperti anak-anak dari Malaysia yang juga sangat banyak menuntut ilmu di Universitas negeri tersebut. Memang tipikal keluarga pemuda tersebut dan mungkin tipikal keluarga Minang pada umumnya bahwa mereka ingin menyekolahkan anaknya sampai ketingkat tertinggi. Karena pendidikanlah yang bisa merubah kehidupan dan pola berpikir seseorang menurut pemuda tersebut. Pemuda tersebut masih ingat, bahwa ketika ia mengunjungi rumah beberapa temannya di Ranah Minang mendapati bahwa minimal ada seorang sarjana yang dihasilkan di dalam keluarga tersebut, begitulah keinginan kuat untuk  melanjutkan pendidikan di kampung halaman pemuda ini.

………

Formulir untuk ujian masuk gelombang kedua telah ditangan, dan hanya tinggal menunggu hitungan hari saja untuk memutuskan masa depan si pemuda ini. Konsultasi dan meminta saran pun akhirnya berlanjut dengan Inyiak dokter yang disebutkan diatas. Singkat cerita setelah perbincangan yang hangat disertai canda tawa karena si pemuda merupakan anak pertama dan cucu pertama dan lumayan ganteng kata ibunya🙂🙂 yang berasal dari sebuah keluarga bahagia dan sederhana di sebuah desa yang hanya beraspalkan seadanya dikala tahun 1998 yang bernama Padang Sago. Menit demi menit pun berlalu tak terasa, segelas teh yang hangat kemudian menjadi dingin dan isinya menjadi sepertiga penuh. Si pemuda akhirnya memutuskan untuk tidak jadi mengikuti ujian 2 hari kemudian dan tidak ingin ambil bagian untuk  berpartisipasi dalam persaingan merebutkan tempat untuk menjadi seorang dokter. Si pemuda tidak sempat menanyakan bagaiman perasaan orang tuanya pada waktu itu, yang jelas si pemuda telah bersyukur telah mendapat sebuah tempat duduk di Universitas Andalas di Jurusan Teknik Mesin, kalau memang Tuhan memberikan yang lebih baik dari ini si pemuda juga merasa lebih bersyukur tentunya.

Lima tahun kemudian si pemuda menyelesaikan studinya dan menjadi seorang dokter juga akhirnya, tetapi bukan dokter untuk manusia yang mengembalikan senyuman dan kebahagiaan kepada pasien setelah diperiksa dan diobati apalagi pasien yang sedang merasakan sakit gigi🙂. Yang membedakan kedua professi ini hanyalah pasien yang ditanganinya, kali ini pemuda tersebut menjadi dokter bagi sebuah mesin yang tak memiliki perasaan, Alhmdulillah sampai saat ini sipemuda belum mendapat senyuman dari sebuah mesin. Seorang dokter yang ramah dan murah senyum pasti akan disenangi pasiennya, belum diobati pun kadang pasien sudah merasa sembuh, seperti yang pemuda ini alami ketika dahulu pergi kesebuah klinik dokter😉. Profesi seorang dokter adalah pekerjaan yang mulia tentunya, memberi harapan dan motivasi kehidupan, mengembalikan senyuman kepada seseorang kadang dirasakan sebagai kepuasan tersendiri didalam kehidupan.

Sewindu telah berlalu sejak sipemuda memutuskan untuk menjadi dokter mesin, mungkin sipemuda tidak pernah mendapatkan senyuman dari seorang pasien seperti seorang dokter dapatkan, tapi setidaknya sipemuda mendapat senyuman dari pembaca tulisan ini. Si pemuda hanya berharap suatu saat si pemuda dapat memberikan sebuah senyuman kepada pasien yang belum memiliki penerangan di rumahnya supaya kelak anak-anak pasien tersebut bisa lebih cerdas dan pintar dari pada pemuda ini.

01.07 ..Muelheim ad Ruhr..16.06.2011

Si pemuda melanjutkan membaca buku Habibie & Ainun supaya kisah buku yang di baca ini bisa menular juga nantinya:-)

Salam dari lembah Sungai Ruhr..

Bayu van Adam

6 thoughts on “Antara Dokter dan Dokter Mesin

  1. mas, saya mau saran dong mas. saya bercita-cita ingin jadi dokter dan tahun ini insayaallah saya mau ngambil di jerman tolong dong mas kasih gambaran bagaimna kuliah kedokteran di sana. makasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s