A memory from childhood is perhaps the best education

Jam menunjukan pukul 01.30, sebuah malam yang begitu sepi di lembah sungai Ruhr membawa saya menoleh sebuah novel yang baru saja datang dari Indonesia. Buku “9 Summer 10 Autumns” begitulah judul novel yang tertera di kulit terluar yang berwarna putih dengan dua buah gambar Apel yang saling berdekatan, yang kiri melukiskan pegunungan yang menggambarkan kota Malang dan yang kanan menggambarkan kegagahan patung Liberty di New York.

Sebelum membaca halaman pertama, saya menemukan quote yang dikutip penulis dari Dostoevsky’s The Brother Karamazov. Isinya sebagai berikut :

“You must know that there’s nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, especially a memory from childhood, from the parental home. You hear a lot said about your education, yet some such beatiful, sacred memory, preserved from childhood, is perhaps the best education. If a man stores up many such memory to take into life,then he is saved for this whole life. And even if only one good memory remains to take into life, then he is saved for his whole life. and even if only one good memory remains with us in our hearts, that alone may serve some day for our salvation”

Dosteovky’s
The brothers Karamazov

Begitu besar niat saya ingin memiliki buku ini karena dipengaruhi oleh acara Kick Andy beberapa waktu lalu. Mas Iwan Setiawan tampil sebagai bintang tamu, dan saya begitu terkesan sekali dengan cita-citanya dan perjuangan hidupnya sehingga membawanya ke The Big Apple. Beliau tidak ingin menjadi orang rata-rata dan ingin memiliki cita-cita setinggi-tingginya agar hidupnya bisa berubah. Ternyata memang benar bahwa kita kadang terlalu takut untuk bermimpi terlalu tinggi dan membatasi diri kita bermimpi sehingga akhirnya memilih menjadi orang rata-rata. Memang pengalaman masa kecil begitu membekas di dalam perjalanan hidup seseorang dan menjadi pelajaran dan membentuk karakter yang luar biasa kelak jika si anak telah dewasa. Pendidikan tidak saja hanya di dapatkan di sekolah tetapi juga berasal dari alam, seperti pepatah Minangkabau “Alam terkembang Menjadi Guru” begitulah luasnya sumber ilmu dan bagaimana kita harus banyak belajar dari alam. Saya teringat dengan quote Muhammad Hatta “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”  dan Iman Ali bin Abi Talib juga menegaskan bahwa “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” .

Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menghafal dan menuliskannya, tetapi untuk mengikatnya sebaiknya kita menuliskannya. Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 yang di bacakan oleh Malaikat Jibril juga sarat dengan perintah membaca, menuliskannya dan mengagungkanNya.

إِقْرَاْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ,  خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ.  إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ.  الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (العلق 1-5)

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu maha mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui” (QS. Al-Alaq : 1-5)

Muelheim ad Ruhr…at 02.06 – 14.06.2011

melanjutkan membaca “9 summers , 10 autumns” sampai tuntas dan berusaha membuat resensinya nanti🙂

Bayu van Adam

2 thoughts on “A memory from childhood is perhaps the best education

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s