Sudah makan roti dan keju, kok mataku belum biru?

Sampai siang ini, sudah 3 hari aku tidak makan nasi lagi, bukan karena apa-apa, melainkan sifat malas memasakku yang mulai kambuh lagi. Hari-hari sebelumnya dilalui dengan makan sup sayur dicampur ayam kentang plus roti gandum khas Jerman yang membutuhkan sedikit tenaga untuk mengunyahnya, saking kerasnya buat orang Asia sepertiku. Teringat perbincangan dengan ibuku, bahwa aku pernah berhasil tidak makan nasi selama seminggu. Ketika aku menghabiskan sebulan liburan di Ranah Minang beberapa bulan yang lalu dalam sebuah perbincangan beliau bertanya perihal keberhasilanku tahan seminggu tidak makan nasi “Lalu apakah kamu tidak merasa lapar?”..begitu pertanyaan balik ibuku yang kuterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Memang ibuku belum pernah bepergian keluar negeri apalagi ke Eropa ini, oleh karena itu beliau tidak tahu sepak terjangku disini, “tidak bu, rotinya kan dari gandum, jadi sudah mengandung karbohidrat, trus kentangnya juga mengandung karbohidrat, itu sudah cukup sebagai pengganti nasi yang juga mengandung karbohidrat” , begitu aku menerangkannya secara ringkas kepada ibuku. Memang sebagai orang Indonesia, aku juga merasa kalau belum makan nasi hari ini, berarti belum afdol kalau disebut “makan”😉.

Lalu ibuku balik bertanya “kalau sarapan pagi kamu makan apa?”. lalu aku menerangkan dengan singkat “Biasanya kalau buru-buru ke kampus dikarenakan ada kuliah pagi aku cuma menyiapkan roti yang dilapisi keju plus coklat diantaranya. Ya, sama seperti iklan-iklan di televisi kita yang diatasnya di taburi coklat bubuk atau coklat tablet, kalau aku disini coklatnya cukup dilapisi saja menggunakan sendok pemotong seperti yang digunakan untuk memotong steak ketika kita makan steak di restoran-restoran itu lho bu. Kalau minumnya ya paling minum dua gelas air putih dulu, biar segar terus kalau winter biasanya minum teh panas atau capuccino sambil belajar bahasa Jerman dari televisi”. Kadang aku berusaha menerangkan sebuah kasus sesederhana mungkin kepada seseorang supaya orang tersebut mengerti apa yang aku maksud.

Aku teringat ketika duduk di bangku sekolah dulu dan lumayan sering juga menonton drama komedi FRIENDS di salah satu televisi swasta di tanah air sekitar tahun  2000an kalau tidak salah. Mungkin dari film itulah kadang cita-cita ku untuk pergi merantau ke negara barat mulai tumbuh, walaupun kadang berpikir jauh panggang dari api. Faktor pertama karena bahasa Inggrisku yang hancur lebur pada saat itu, bahkan ketika kuliahpun aku harus mengulang dua kali mata kuliah bahasa Inggris, akhirnya berhasil juga lulus setelah mendapat nilai C+ di tahun 2008, bukan C++ lho nilainya (itu program komputer)😉. Kedua, belum ada silsilah dalam keluargaku yang merantau sampai keluar negri. Kadang film-film barat bagai dua sisi mata uang, bisa bermanfaat atau sebaliknya tergantung cara kita mengambil dari sisi yang mana. Dari beberapa film barat yang ditonton pada saat itu terlihat bahwa orang barat tidak menyantap nasi ketika makan, lalu muncul pertanyaan lagi dalam diriku. Apakah mereka kenyang dengan cuma makan roti plus teman-temannya?. Pertanyaan yang akhirnya terjawab pada tahun 2010 di Jerman.

Memang sebagai orang Indonesia aku masih belum bisa meninggalkan nasi, walaupun kadang-kadang mencoba untuk mengganti dengan roti dan keju, tetapi rasanya  itu lho dipikiran, kok kalau belum makan nasi di rasa belum makan walaupun sebelumnya menyantap 4 lembar roti gandum Jerman plus keju dan coklat. Hal ini juga yang menyebabkan pemerintah kita mulai mengimpor beras dari negara tetangga karena begitu tingginya permintaan beras di Indonesia, padahall produksi dalam negri tidak mencukupi untuk konsumsi dalam negri. Padahal dari segi karbohidrat dan protein roti disini sudah cukup layak menggantikan nasi serta lauk pauknya. Pernah sekali sewaktu pulang ke Indonesia dua bulan yang lalu teman ku bertanya sambil berkelakar, “wah, kamu setelah satu setengah tahun di Jerman semakin putih aja Bay, memang tidak ada matahari ya disana?, trus, makan disana apa? “. Terus aku menjawab singkat “memang di Jerman tidak ada Matahari, apalagi Matahari Dept Store,makanya bisa putih🙂🙂😉. Trus kalau soal makan sih biasa saja, paling makan nasi kalau mau memasak atau lagi malas memasak biasanya  makan roti dan keju aja, tetapi anehnya sudah satu setengah tahun makan roti dan keju, kok mataku belum biru ya kayak bule Jerman?”.hehehe..sambil tersenyum.Ahh, memang sebaiknya aku tetap menjadi anak singkong yang punya cita-cita keju😉.

Muelheim ad Ruhr, 01.50 —11.06.2011

Insomnia mulai muncul lagi, sambil menunggu sholat Shubuh jam 03.00

Salam tepian lembah sungai Ruhr yang damai dan tenang..

Bayu van Adam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s