Bersyukur lagi.

Musim telah berganti tiga kali di negeri Ich liebe dich ini semenjak terakhir kali aku menulis di blog ini di pertengahan 2010. Summer, Fall dan Winter,  mereka telah berlalu begitu saja tanpa pernah menyapa dan merindukanku seperti seorang gadis kepadaku. Rupanya kemampuan menulisku mulai hilang ketika Winter mulai datang, atau aku lebih senang menyebutnya dengan Musim Beku atau mungkin pikiranku juga membeku sehingga tidak produktif dan terlalu malas sebagai seorang pemuda atau cuma mencari pembenaran atas kesalahan. Bukan tanpa sebab aku mengatakan itu. Winter memang menjadi momok bagiku. Memang pada awalnya begitu antusias dan bahagia luar biasa karena menemukan bunga-bunga es yang jatuh dari langit sebagai anugerah yang Maha Pencipta. Bagaikan anak kecil mendapat mainan baru yang bahagianya tak terkira. Semua menjadi putih bak adegan di film Narnia yang tersesat ketika mereka masuk lemari untuk bersembunyi ketika main petak umpet dan menemukan jalan kedunia lain yang begitu putih diselimuti salju. Atap-atap rumah menjadi putih seakan atap terbuat  dari es-es yang sengaja menjadi atapnya, jalan-jalan aspal yang panas dan hitam membara di sertai fatamorgana seperti yang aku lihat di Padang, sekarang tertutup salju dan memutih bagaikan seputih kapas. Bahkan tumbuhan pun menjadi malas untuk memasak dengan proses fotosintesis. Yang menjadi momok adalah tentu saja ketika stock gula atau teh habis, yang cuma masalah sepele, maka aku harus berpakaian lengkap (baju, jaket, sepatu, longjhon, jeans) hanya untuk membeli meraka di supermaket terdekat dan di bawah temperatur minus nol Celcius. Kalau sudah begini, maka yang aku rindukan adalah Indonesia, yang bahkan pada tengah malam pun tidak perlu menggunakan jaket apalagi longjhon untuk melapisi celana seperti stocking pada perempuan yang tentu saja fungsinya berbeda yaitu untuk menahan serangan minus celcius ketika keluar rumah. Memang tidak salah Koes Plus menyayikan lagu Kolam Susu untuk medeskripsikan Indonesia. Negeri yang makmur akan sumber daya alamnya dan sang surya yang selalu setia menampakan diri dengan senyuman hangatnya hanya saja mungkin sekarang Indonesia yang salah asuhan.

Tapi sebaiknya kita bukan bercerita tentang keindahan dan ketidaksopanan musim dingin di Jerman yang dinginya bisa sampai menusuk tulang dan di tambah dengan hembusan angin Laut Utara yang tidak segan-segan mengelus muka sebagai tanda marah atau sayang mereka terhadapku. Mungkin sebaiknya kita memulai dengan Spring yang begitu cantik di Jerman atau di Eropa pada umumnya, dimana bunga-bunga mulai bermekaran berwarna warni dan kumbang-kumbang mulai menghisap madu sang bunga yang sedang cantik-cantiknya seperti yang di utarakan Iwan fals dalam lirik lagunya Kumbang Bunga.

Pagi itu seperti biasa dan bahkan hal yang sangat biasa kulalui setelah hampir satu setengah tahun disini, bahkan tetanggaku anak India sudah hapal betul tentang menu sarapan ku yang hanya bermaterikan  telur dadar dan beberapa roti di lapisi keju yang di beli di Penny supermarket serta kalau ada sambal ABC yang selalu aku beli di toko Asia di Essen yang menurutku sedikit pedas sebagai orang Minang plus segelas capuccino atau susu panas.

Sudah beberapa hari ini aku mengalami masalah tentang jadwal tidur malam, bukan hal biasa bagi diriku untuk merebahkan kepala di atas bantal pada jam 22.00 dan terbangun secara tiba-tiba pada jam 4.00 pagi. Atau aku mungkin masih mengalami jetlag seperti kata teman-temanku dan pikiran positifnya mungkin aku harus bersyukur juga karena aku bisa melaksanakan sholat malam dengan ketidaknormalam ini.

Kuliah pagi ini dimulai pada jam 8.45, dan berarti aku harus sampai di halte dan berada di depan pintu Strassenbanh (trem) pada jam 8.28, karena disini satu menit begitu berharga. Jika anda datang jam 8.29, maka anda harus menunggu lagi trem 15 menit berikutnya dan berarti anda akan terlambat sampai ditujuan. Atau bagaimana jika anda harus menghadiri suatu pertemuan yang penting?..

Memang jarak antara rumah dengan kampus sekarang hanya tinggal 5 menit saja dengan menggunakan trem yang cuma melewati dua halte di banding tahun sebelumnya yang harus duduk diatas trem selama satu jam dari Essen ke Duisburg. Tiba-tiba saya jadi teringat dengan jarak antara Bandung dan Duisburg yang hampir mencapai 12.000 km. Sungguh jarak yang tidak bisa dibilang dekat, bahkan harus sedikit meringis mengatakan bahwa itu jauh. Kenyataanya, walaupun anda menggunakan burung besi Emirates Boeing 777 tetap saja anda harus duduk-duduk manis bagaikan bayi diatas ayunan selama 15 jam di dalamnya. Anda bukan saja harus melewati Samudra Hidia dan laut Arab untuk mencapai Dubai untuk transit dan melanjutkan perjalanan dari Dubai ke Duesseldorf dengan melewati Turki yang eksotis, Negara Balkan seperti Yunani yang penuh dengan histori melewati Bulgaria yang terkenal dengan kecantikan wanita dan harus menyaksikan bagai mana berada diatas barisan pegunungan Alpen yang mendunia dengan kecantikan dan keanggunannya berselimutkan salju.

Untung di zaman Google semuanya terasa begitu mudah, jarak antara dua kota di dua benua terasa begitu dekat, seakan tidak menjadi penghalang lagi untuk berkomunikasi dan melihat kemanjaan seseorang di depan kamera melalui Skype. Saya tidak bisa membayangkan  bagaimana rasanya kalau hidup di zaman Gestapu di tahun 60an dimana orang masih menggunakan kapal laut untuk berpergian jauh karena masih sangat langkanya pesawat komersial atau mungkin terlalu mahal dan saya harus merantau ke Eropa seperti yang telah di lakukan Tan Malaka, Hatta dan beberapa rekan mereka lainnya pada waktu pergerakan menuju kemeredekaan. Mungkin mereka harus melewati setidaknya beberapa purnama sebelum mencapai Eropa. Sudah seharusnya aku bersyukur dengan hidup di zaman sekarang tanpa ada hambatan untuk mengetahui bagaimana keadaan di benua lain.

Ah..terlalu sombong untuk tidak bersyukur terhadapNya atas semua yang telah kudapat sampai sejauh ini, karena aku sangat begitu kecil di hadapanNya. Aku sangat setuju dan mataku sedikit berkaca-kaca ketika mendengar lagu dari D’Masiv. Kira-kira liriknya seperti ini,

“syukuri apa yang ada…hidup adalah anugrah…tetap jalani hidup ini…melakukan yang terbaik…jangan menyerah…jangan menyerah”

Muelheim an der Ruhr, Deutschland..12.04.2011

Bayu Adam

3 thoughts on “Bersyukur lagi.

  1. mantap…….kata2 nya…..indonesia memang negeri yg indah……jadi, kuliah jo lah yg di jerman…kalo karajo tetap di indonesia……….. lai jadi baok raket…yu..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s